Selasa, 29 September 2009

Tersudut Dalam Jeda

Masih ingatkah kamu tentang perasaanku kemarin?!. Mungkin keceriaan suasana lebaran sedikit melupakan bayang-bayang semu yang sesekali menyergap. Syukurlah kalau-kalau ada yang masih ingat, meski aku sendiri  kadang-kadang lupa akan perasaan itu. Ya, perasaan seperti anak SMP yang baru menemukan gadis pujaannya. Perasaan cinta yang luar biasa!. Kecintaan yang dengan rela meluangkan waktu hanya untuk mempercantik dan menghias si gadis agar tampil menarik dan nggak malu-maluin kalau diajak kondangan. "Ach, barangkali semua sudah basi!"

Tiba-tiba semua terasa begitu lucu!. Melamunkan perasaan itu membuatku tertegun dengan terbesit rasa malu. Ternyata hasrat cinta yang kemarin menggebu tak bertahan lama. Langkah awal sebagai janji dan harapan yang pernah terucap, terasa seperti bualan yang biasa diungkapkan para buaya. Kado manis merah muda yang pernah dikirimkan tetangga sebelah yang terbingkai manis dalam ruang tamu kini tampak lusuh dan berdebu.  Akhirnya saya sendiri malu dibuatnya, banyak hal yang rasa-rasanya telah terlupa. Sanjungan manis telah melenakan sebagian otakku, membuat gairah dan hasratku terlupakan jauh oleh hati. Membuatku tersudut dalam ruang yang tak biasa aku singgahi dan mengaburkan angan-angan yang semakin terlupakan oleh waktu. Lama sekali rasanya aku tak mengajakmu memainkan imaji. Berjalan melewati jalan sempit di jagat yang begitu luas yang seolah tak bertepi. Bahkan sekedar singgah bersama, menjelajahinya lewat mimpi. "Hahaha....."Akupun jadi tertawa sendiri.

Tersudut?! Aku jadi berpikir, lalu pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam Ruang Jeda ini.  Perasaan ini terus hidup meski kadang meredup. Jangan-jangan ini hanya cinta monyet?!. Atau barangkali orang-orang telah menganggapku monyet yang sedang jatuh cinta?! Kalau ya, ternyata sulit juga mempertahankan perasaan yang agak tak biasa bagi "seorang" monyet. Ah.....aku bukan murid Darwin. Aku juga tak meng-amin-i teorinya. Tapi yang pasti, aku tidak sedang jatuh cinta dengan monyet!

*gambar dari sini

6 Jejak Yang Tertinggal:

Itik Bali mengatakan...

Cinta monyet atau cinta orang dewasa tak ada bedanya
yang membedakan adalah bagaimana menilai ketulusan sebuah cinta

Newsoul mengatakan...

Kadang-kadang mampir ke sudut hati kita sendiri, indah juga lho Yans, hehe. Selamat menggali yang tersudut dalam ruang jedamu sobat.

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

tersudut aku merenung dalam ruang jedah , indah nian untaian kata yang terungkap.

Aku juga bukan penganut paham Darwin, cuman paras aku agak mirip dikit dengan teorinya.

wakakakakaka....

ateh75 mengatakan...

Cinta itu butuh perawatan dan pupuk ,kalo tidak ...ya lenyap dengan rasa bosan ,semoga cinta diruang jedamu tak surut oleh waktu...semangat sobat untuk bercinta dengan kata !!!

Tisti Rabbani mengatakan...

ah, Yan...
jangan terlalu nyaman dlm jeda...
ingat lho...cinta tak mengatakan kapan datangnya...
musim akan sangat cepat berlalu..
hingga ia luruh daunnya...

ayolah, Yan...
bergegaslah,
mengembaralah wahai hati..
hingga rinainya merebak...

yans"dalamjeda" mengatakan...

Terimakasih atas petuah-petuah sahabat!
Seperti baru bangun dari tidur panjang..........

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda