Kamis, 07 Januari 2010

Siluet Senja










Senja memanggilmu
kemudian menjemput angan dari tempatmu bersembunyi
nampak samar kini wajah-wajah yang dulu kau pandangi

Kau berdiri di antara bongkahan mimpi-mimpimu
di sebelah tumpukan layang-layang yang dulu pernah kau terbangkan
telah melupakan wajah samar yang sempat kau tinggalkan di ujung jalan sana
tempat yang sama kau memulainya

Kau pun kembali mengeja kehadiran tiap kata
dari siratan wajah samar yang membentuk bayang
memantulkan siluet senja
hingga teramat sarat sesal kau rasa


READ MORE - Siluet Senja

Selasa, 05 Januari 2010

Tembang Kenangan


Barangkali orang ingin mengulang kembali. Tentang waktu yang terlewati, di sepanjang jalan kenangan. Tak nampak lagi bekas, sisa-sisa kemesraan dari jejak yang baru sebentar tertinggal. Terhapus, haru birunya kehidupan.

Dawai-dawai ingatan mengalun, merajut melodi sebelum kau pergi. Sendu, merangsek menembus waktu tersisa. Memantul dari gelas-gelas kaca. Membuka kembali memori, acak tak berurutan. Mengalir, meski tanpa vodka atau bir. Hanya segelas soda, tak seperti biasa.

Sepoi angin senja membelai kerinduan. Merangkai kembali bayang-bayang dan menyusunnya hingga utuh melukiskan senyummu. Di sini aku menanti, musim cinta datang menjelang. Bersama tembang kenangan, mengembalikan semua kisah tentang kita. Bernostalgia tentang cinta, rindu dan luka.

*gambar by wredna
READ MORE - Tembang Kenangan

Senin, 04 Januari 2010

Tujuh Ratus Tujuh Puluh Satu Juta

Saya tercengang ketika melihat angka 771.000.000. Siapapun kita yang membaca angka 771.000.000 tak akan menganggap itu adalah nilai yang kecil. Ya, dengan fasihnya kita mengeja deretan kata "tujuh ratus tujuh puluh satu juta".

Jumlah 771 juta bukanlah sejumlah uang yang saya dapatkan dari menang undian tahun baru. Jumlah itu juga bukan jumlah saldo tabungan yang saya miliki di bank. Bukan! Bukan pula rupiah yang hasil bagi-bagi dari skandal Century. Bukan. Tentu bukan. Tentu, kita tak akan setuju dikaitkan dengan angka itu. Dengan bangga kita akan berteriak tanpa mengeja "tujuh ratus tujuh puluh satu juta".

Kita tidak sedang mebicarakan nominal rupiah. 771 juta adalah jumlah jiwa penduduk dunia yang dikategorikan sebagi buta huruf. Dari jumlah itu, 13,2 juta di antaranya diyakini adalah penduduk Indonesia yang berada di tengah-tengah kita dan merupakan bagian dari 39,30 juta jiwa yang tercatat sebagai penduduk miskin Indonesia, 17,75 % dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2007 (Pikiran Rakyat, 22/05/09) Bukankah kita tak mau di anggap bagian dari mereka?! Dengan lantang kita akan berteriak tanpa mengeja "tujuh ratus tujuh puluh satu juta"

Bagi kita, buku bertahun-tahun telah menyapa kita di sekolah atau saat kuliah. Koran barangkali selalu menemani sarapan pagi kita. Internet dan juga blog tentunya, seperti telah menjadi makanan keseharian buat kita. Kita sudah melek huruf, melek teknologi malah dan kita bangga karena tidak di sebut buta huruf.

Kita memang bukan bagian dari tujuh ratus tujuh puluh satu juta di antara mereka. Atau angka  771 juta itu sama sekali tak  memilki arti dan dapat disimpulkan di sini. Hingga kemudian saya mencoba bertanya pada diri sendiri, hanya karena merasa malu disebut sebagai buta huruf. "Apakah saya bisa membaca?" Saya, atau barangkali kita sama-sama meyakinkan diri sebagai orang yang bisa membaca. Kemudian, saya kembali bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya bisa membaca?" Jawaban pertanyaan itu kemudian melintas di saat kita kehabisan kata untuk mengabadikan ide. Merasa seperti buta huruf, dan tak ada kata yang bisa di tulis dan dibagi. Saya pun lupa, kemudian sedikit mengelak dan berapology, "hanya tak biasa membaca".


READ MORE - Tujuh Ratus Tujuh Puluh Satu Juta
 

Ruang Sapa Dan Cengkerama

Terimakasih

Setia Ruang Jeda

Ruang Sebelah