Saya tercengang ketika melihat angka 771.000.000. Siapapun kita yang membaca angka 771.000.000 tak akan menganggap itu adalah nilai yang kecil. Ya, dengan fasihnya kita mengeja deretan kata "tujuh ratus tujuh puluh satu juta".
Jumlah 771 juta bukanlah sejumlah uang yang saya dapatkan dari menang undian tahun baru. Jumlah itu juga bukan jumlah saldo tabungan yang saya miliki di bank. Bukan! Bukan pula rupiah yang hasil bagi-bagi dari skandal Century. Bukan. Tentu bukan. Tentu, kita tak akan setuju dikaitkan dengan angka itu. Dengan bangga kita akan berteriak tanpa mengeja "tujuh ratus tujuh puluh satu juta".
Kita tidak sedang mebicarakan nominal rupiah. 771 juta adalah jumlah jiwa penduduk dunia yang dikategorikan sebagi buta huruf. Dari jumlah itu, 13,2 juta di antaranya diyakini adalah penduduk Indonesia yang berada di tengah-tengah kita dan merupakan bagian dari 39,30 juta jiwa yang tercatat sebagai penduduk miskin Indonesia, 17,75 % dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2007 (Pikiran Rakyat, 22/05/09) Bukankah kita tak mau di anggap bagian dari mereka?! Dengan lantang kita akan berteriak tanpa mengeja "tujuh ratus tujuh puluh satu juta"
Bagi kita, buku bertahun-tahun telah menyapa kita di sekolah atau saat kuliah. Koran barangkali selalu menemani sarapan pagi kita. Internet dan juga blog tentunya, seperti telah menjadi makanan keseharian buat kita. Kita sudah melek huruf, melek teknologi malah dan kita bangga karena tidak di sebut buta huruf.
Kita memang bukan bagian dari tujuh ratus tujuh puluh satu juta di antara mereka. Atau angka 771 juta itu sama sekali tak memilki arti dan dapat disimpulkan di sini. Hingga kemudian saya mencoba bertanya pada diri sendiri, hanya karena merasa malu disebut sebagai buta huruf. "Apakah saya bisa membaca?" Saya, atau barangkali kita sama-sama meyakinkan diri sebagai orang yang bisa membaca. Kemudian, saya kembali bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya bisa membaca?" Jawaban pertanyaan itu kemudian melintas di saat kita kehabisan kata untuk mengabadikan ide. Merasa seperti buta huruf, dan tak ada kata yang bisa di tulis dan dibagi. Saya pun lupa, kemudian sedikit mengelak dan berapology, "hanya tak biasa membaca".