Kamis, 05 Agustus 2010

Nasib Pahit Kopi

Aku tak pergi mengelilingi dunia. Hanya sempat singgah dari cangkir ke cangkir lain di kota kecil yang tak begitu jauh jaraknya.

Setibanya aku di sini, aku berputar-putar. Bukan berkeliling menikmati pemandangan kota dengan gedung-gedungnya yang bertingkat atau kemegahan pusat-pusat perbelanjaan, tapi justru seperti orang kebingungan. Kudapati debu dan peluh telah bercampur, memenuhi kening dan seluruh bagian wajahku di tengah hari yang terik. Kuusap dengan ujung baju.

Aku tersesat, tak tahu arah mana yang akan kutuju.
Kau datang menghampiriku yang sedang sendiri di ujung jalan. Di sebelah warung murahan yang tak jauh dari gedung mewah tempat para penguasa memerintah. Di sana kita bisa lihat orang-orang dengan gagah mengatur nasibnya sendiri. Mungkin mereka mengatur nasib kita juga. "Hey, ternyata kita senasib!". Kau dan akupun tertawa sembari mencaci, kemudian kau menawarkan secangkir kopi.

Tiba-tiba ada keakraban di antara kita yang sama-sama merasa tak puas oleh keadaan, oleh nasib.
Kadang-kadang kita merasa ia begitu mempermainkan kita. Setengah hari sebelumnya kita telah menikmati makan besar semacam perjamuan, setengah hari berikutnya tak ada ikan asin yang kita panggang sebab kucing tetangga telah lebih dulu mencurinya.  Seketika ia bisa menyapu bersih rasa senang yang baru saja hinggap dan kita nikmati. Atau, tak bisa lagi kita menikmati secangkir kopi yang beraroma gurih dari warung sebelah sambil menghabiskan puntung rokok sisa semalam, sebab hutang seminggu yang lalu belum terbayar. Hahaha...kita tertawa sembari mencaci nasib pahit yang kita sesap bersama kopi..

"Kita memang tak pantas berlama-lama dalam senang dan nyaman". Ya, kadang-kadang rasa senang yang memberi kenyamanan justru membuat pikir kita tak banyak bergerak. Situasi nyaman membuat kita tak memiliki banyak keinginan, hingga tak banyak keresahan yang ingin kita sampaikan. Tak ada amarah yang ingin kita luapkan. Atau sekedar uneg-uneg yang sekedar pula ingin kita utarakan. Kita masih bisa bersyukur, secangkir kopi masih bisa kita nikmati meski pagi yang kita lewati berlalu tanpa sarapan. Hahaha....secangkir kopi ini, nasib kemudian kita aduk bersama di dalamnya.

Ada banyak jejak yang kita tinggalkan di warung-warung penjual kopi. Benar-benar menjejak, bukti perjalanan kita mengikuti nasib. Sebab kita sama-sama tersesat, di sudut-sudut jalan belantara, mencari nasib yang tiba-tiba bersembunyi. Tiap sudut jalan yang pernah kita lewati menyimpan jejak usang itu. Benar-benar sudah nampak usang, dilindas nasib yang balik kita permainkan. Aneh, tempat-tempat itu selalu saja terkenang. Menyimpan pesan yang belum sempat kubaca.

Nasib pahit kopi kian akrab dengan pahit hari yang akan kita lalui. Darinya, kita tahu manis tebu, tapi pahitnya akan selalu kita rindu. Sebab itu, sesekali masih suka kukunjungi tempat-tempat mereka, para penjual kopi. Mengenangmu, mengenang jejak kita, nasib kita. Seperti saat ini, kunikmati secangkir kopi malam ini sendiri. Kuaduk kepekatannya seperti mengaduk nasib kala itu, aromanya berpendar membunuh sepi. Rasa pahitnya melupakan pahit hidup yang pernah kita sesap, hingga saat ini sebelum kemudian terserap oleh lantai yang menjadi alas tidur kita. Esok, ketika kita bangun dari lelap tidur,  nasib lain kembali siap kita kejar. Tentu setelah kopi pagi kita nikmati.

10 Jejak Yang Tertinggal:

Itik Bali mengatakan...

Kopi pahit tanpa gula
setidaknya masih ada kopi mas
meski tanpa gula
lumayan menghilangkan kantuk dan nelangsa..
setidaknya begitu..
ketimbang tak ada..

:D

Winny Widyawati mengatakan...

Kopi, teman setia para penguasa sekaligus para teraniaya, sama-sama meberikan satu rasa....nyaman.

Nice posting :)

yansDalamJeda mengatakan...

Terimakasih, yang sudah menikmati kopi pahit ini. Semoga sejenak bisa melupakan kepahitan hidup. Hehehe....

TRIMATRA mengatakan...

selalu semangat jalani hidup bersama secangkir kopi pahit di ruang jeda,,,

ps: marhaban ya ramadhan, maaf lahir batin.

BLOGGOBLOG KAMPUNGAN mengatakan...

Coffe, my fav cup...
mari bersulang...

Read Online Naruto|Naruto Raw Spoiler|Naruto Shippuden|Naruto Volume|Naruto Anime mengatakan...

hai, hadir disni menyapamu, pa kabar sob?
tukeran link yok..
link kamu sdh terpasang rapi di blog ku, silahkan dicek..
di tunggu kehadirannya.. makasih :D
oh, ya sob.. follow jg yah, ntar q follow blik deh.. lmyn bwt ngerame'in blog newbie ini..he3

Seiri Hanako mengatakan...

kopi pahit a k a teguran keras...



hehehehe

Irwan Bajang mengatakan...

wah, kali ini kritis nan puitis bung, tulisannya..
saya juga sebenarnya seorang penikmat kopi semcama aktivitas bung ini...cuma saja ada penyakit maag sedikit. tapi toh saya nggak terlalu peduli...hehehehe..

"Sudah tak terhitung lagi, berapa celana jeans yang bolong, saat kita singgah di banyak warung ke warung"


tulisan kali ini, sungguh memukau, bung!
mantap jaya!

yansDalamJeda mengatakan...

Terimakasih untuk semua yang telah singgah, dan "Selamat Berpuasa.........."

M. Faizi mengatakan...

Malam dan sendiri, sama dinginnya
kopi dan rindu, sama getirnya

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda