Kamis, 22 Juli 2010

Jangkrik!


Lelaki itu. Ia memejamkan matanya. Seperti menarik waktu yang berlalu untuk hadir kembali. Ia ingin mengulangnya, sehingga tak harus ada penyesalan yang tersisa, sedikitpun.

Lihatlah lelaki itu, seperti pencuri saja. Mengendap-endap mencari sesuatu yang ingin dimilikinya. Mencari-cari sesuatu yang menurutnya berharga, yang sudah lama ia ingin genggam.
"Jangkrik!" gumamnya. Sebab, ia tak menemukan apa yang ia mau.

Terus mengendap, ia masih saja begitu. Mencari jejak masa yang telah lewat. Barangkali ia temukan di antara tumpukan harapan yang usang itu, di bawah mimpi yang berdebu.
"Jangkrik!" hujatnya, sembari menghapus keringat di kening dan tubuhnya yang sudah tak berbekas. Ia hanya menemukan masa lalu yang terbungkus penyesalan.

Tak puas. Lelaki itu merasa dipermainkan. Ia masih mengendap, semakin mengendap. Sorot matanya yang kosong mencoba waspada. Mengintip seberkas cahaya dari balik pintu yang masih tertutup rapat. Dibukanya pintu itu dengan paksa.
"Jangkrik!" gerutunya. Gelagapan, sebab ia menemukan ketakutan yang tersembunyi di sana. Di sela-sela tumpukan angan.

Lelaki itu pergi membopong waktu hasil curiannya.
Jauh sebelum hari ini, ia tak pernah membayangkan. Terjebak, dan ia tertangkap. Terpenjara oleh waktu yang ia curi sendiri.
"Jangkrik!", hewan kecil itu terus saja menjadi kambing hitamnya. Kemudian ia baru saja menyadari, bahwa ia telah kehilangan hari ini.

21 Jejak Yang Tertinggal:

Desfirawita mengatakan...

Aku seperti ditinggalkan waktu, dan ternyata laki-laki itu yang telah mencurinya...huff... bilang padanya, bahwa aku lelah mengejar waktu :p

Ka Damar mengatakan...

di tengah dinginnya malam penuh kabut dan sunyi, seekor jangkrik menemani :D

muinir ardi mengatakan...

apakah semuanya akan tercuri dari kita

dewanto mengatakan...

hati-hati makanya kalau mengumpat, hihihi

Raa mengatakan...

teloooooooooo.........:-)
hahahahahaha...untung nggk J@@c@@!

yansDalamJeda mengatakan...

Barangkali kurang etis kata itu saya cantumkan. Mohon maaf bila kurang berkenan.

Terimkasih untuk semua yang telah singgah.

yansDalamJeda mengatakan...

‎"Waktu adalah guru yang hebat. Sayangnya, ia bunuh semua muridnya"
--Louis Hector Berlioz--

catatan kecilku mengatakan...

Bingung akan nasibnya, gamang akan masa depannya, kecewa akan hidupnya.... rasanya makin banyak saja orang2 yg mengalami hal spt itu.

the others... mengatakan...

Untuk orang2 yg berada di wilayah Jawa Timur, mungkin kata2 itu sering terdengar... (baik disuka ataupun tidak).

Rizal Tukuwain mengatakan...

sangat menari kawan,,!
good luck sobat..

Qoirina Nur Kamastyaka mengatakan...

kasian tu jangkrik, sekarang jangkrik bisa jadi kambing yang warnanya hitam hehehehe

TRIMATRA mengatakan...

weddooosss..., hahaha....kambing tenan hitam tenan kalo ituh..

Sebuah Tips mengatakan...

Jangan terpaku ke satu hal saja! masih banyak yg bisa kita pikirkan!

cucuharis mengatakan...

kisah yg penuh hikmah
bagus

Maaf saya baru ngeblog lagi nih :)
Salam persohiblogan

isti mengatakan...

teringat jangkrik, teringat waktu saya masih kecil tinggal di medan

anyindia mengatakan...

mirip iklan rokok ya mas...

"jangkrik!"

berubah jadi jangkrik raksasa dehh :D

Saung Web mengatakan...

Hehe kasihan juga tuh si Jangkrik selalu dijadikan kambing hitam ya..

Dofollow Blog Community mengatakan...

Setuju sama sobat Isti .. jadi ingat masa kecil dulu selalu adu jangkrik sama temen2 haha

aura kasih mengatakan...

kok misoh to.. parah wong iki

Anak Indonesia Harapan Masa Depan mengatakan...

Aku dulu hobi banget....

pasang iklan gratis mengatakan...

mengajak tukerlink>

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda