Jumat, 30 Juli 2010

Don't Try This at Restroom

Sebentar, saya sudah tidak tahan......

Sendiri, sunyi. Hanya terdengar gemericik air yang menetes pelan, mengalun mengantarkan lamunan. Sempit memang, tapi seringkali aku merasa inilah tempat yang cukup istimewa membuang segala persoalan.

Tak nampak pepohonan rindang, sama sekali tak sesejuk hawa pegunungan. Tapi entah, di sini pikirmu akan jauh mengelana. Kau percaya, bahkan dari tempat ini bisa lahir ide-ide yang cemerlang. Tak nampak lukisan-lukisan indah memang, tapi sungguh, di sinilah kau bisa menikmati keindahan hidup. Jika kau sadar, kau akan bersyukur atas karunia itu.

Kupandangi sekeliling, ruang ini mengingatkanku pada ruang lain di sebuah masa yang berbeda. Hanya saja dinding-dindingnya lebih kumuh. Di pojok sebelah pintu tertulis "Tejo love Surti" dengan huruf yang besar. Persis seperti ikrar cinta sepasang kekasih yang diabadikan di batu besar di lereng pegunungan, atau mirip graffity di tembok-tembok beton bawah jembatan di tengah kota. "I love U Shinta" tergores di dinding yang lainnya, bak ukiran jaman kerajaan. Barangkali itu ulah si Rama mengekspresikan emosinya sembarangan saat teringat Shinta yang diculik Rahwana, pikirku. Coretan yang lain lebih mirip symbol-symbol tak karuan, persis seperti lukisan jaman pra sejarah di dinding-dinding gua. Tak indah, sama sekali tak indah. Tapi tempat seperti ini menjadi tempat persembunyian paling aman saat merasa bosan mengikuti upacara sekolah. Atau ruang khusus bagi mereka yang bandel yang mulai berani menikmati rokok pertamanya.

Banyak orang mungkin merasa nyaman di sana, di ruang kecil seperti ini. Merasa lebih leluasa berekspresi, sebab kata orang "inilah ruang paling privasi". Kau bisa bebas bernyanyi tanpa merasa malu dengan suara yang cempreng mirip kaleng rombeng. Tak perlu pula harus berpikir membayar biaya ruang karaoke yang mahal.

Ketika banyak orang merasa tak punya tempat untuk sekedar mengekspresikan diri, tak punya ruang untuk meluapkan emosi. Sebab tak sembarang tempat kita boleh melakukan segala hal. Banyak aturan yang membuat kita seringkali merasa terikat, tak bebas bergerak. Maka di sinilah tempatnya, sebab di sini tak akan pernah kau jumpai larangan untuk melakukan sesuatu kecuali "dilarang buang sampah sembarangan". Kau akan merasa inilah ruang paling demokratis dari seluruh ruang yang ada. Tak ada larangan untuk mengeluarkan pendapat apapun, uneg-uneg apapun bahkan kritikan tajam pada kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, konversi gas misalnya, yang biasa meledak di dapur dan menewaskan ibu-ibu rumah tangga.  Bahkan sambil meledakkan "gas" semaunya. Tak ada yang melarang. Ya, daripada mengeluarkan gas di tempat umum?! nanti bisa dianggap menghina orang lain.

Kau bisa berbuat apapun semaumu, sesuka hati. Bahkan menelanjangi diri, dalam konotasi yang berbeda atau arti yang sebenarnya. "Emang gue pikirin", kau pun boleh mengatakannya. Tak perlu takut kena tilang sebab tak bakal kau jumpai rambu "Dilarang berhenti" atau "Dilarang parkir di sini" seperti di jalanan yag biasa kau lewati. Tak perlu ragu bergerak dan bergaya sesukamu, atau bicara dengan siapapun sebab tak akan pernah kau temui tulisan "Dilarang bicara dengan sopir" atau "Dilarang mengeluarkan anggota badan" seperti yang tertulis di bus-bus kota. Kaupun boleh kencing di situ, berapa kalipun kau mau, sebab tak ada kalimat "Di larang kencing di sini, kecuali anjing!!" tak akan pernah kau jumpai seperti di ujung gang sana. Bahkan mungkin melakukan transaksi perdaganganpun boleh, sebab tak ada kalimat "Dilarang berjualan di sini". Tapi, Don't try this at restroom! Jangan lakukan itu di toilet kalau tak mau dianggap gila!

Ini memang soal toilet. Tempat paling privasi dan paling demokratis itu memanglah toilet. Ruang yang dianggap kotor itulah justru membuat kita betah dan berlama-lama duduk dan termenung. Kita leluasa berpikir tentang apapun, bahkan yang ngawur sekalipun. Atau hanya sekedar berhayal menjadi orang kaya misalnya. Toilet, sepertinya menjadi tempat yang pas membuang segala persoalan. Seperti menyimpan semacam misteri dari balik pintu itu.

"Cepetan!!" begitu teriakan keras dari luar. "Gantian!!" sembari menggedor pintu, membuyarkan lamunan dan nyanyian sumbangku menirukan vokal penyanyi idola. Segera saya bergegas, berdiri dan segera keluar lupa menyiram.

Demokrasi ya demokrasi, orang bebas mengeluarkan pendapat meski beda pendapatan. Tapi jangan menghina apalagi menginjak hak-hak orang lain. Meski kita orang yang merdeka bukan berarti kita bisa berbuat semaunya, gerutunya.

"Emangnya toilet punya nenek moyang lu?!" teriakannya kali ini membuat saya sadar, saya sudah terlalu lama di dalam toilet umum, lupa pula untuk menyiram. Don't try this at restroom!


15 Jejak Yang Tertinggal:

Ferdinand mengatakan...

hahaha... iya ya .. Toliety emank tempat paling Privasi hhe.......klo aku paling suka duduk di WC sembari tidur dan lama2 ketiduran beneran wkwkwk...

Semangat N happy blogging!!

Ka Damar mengatakan...

heheheh...toilet emang ruang jeda.....:D

yansDalamJeda mengatakan...

>>Ferdinand; waduh....?! gawat dong kalau sampe ketiduran di toilet. hehehe

>>Ka Damar; Hahahaha..bisa aj. Tapi bener juga tuh, toilet emang ruang jeda.

Tks sudah sudi mampir.....

Raa mengatakan...

Nesss....kamu sukses buat aku ketawa baca tulisanmu!
hahahahahahahaa.....ono-ono ae! tumben awakmu kreatif!
permisi Mas......numpang ke toilet yo!!!!
ups....kok ono bekas gelas kopi nang toiletmu
emang awakmu ngopi nang njero toilet? hahahahaha......

inge / cyber dreamer mengatakan...

wkwkwk...
toilet oh toilet...
kalo ditoilet umum sepertinya memang jadi seperti fungsi toilet pada semestinya
tapi kalo dirumah, bisa sambil baca buku... dengerin lagu... tapi kalo sampe tidur... hmmm... nggak pernah dech kaya'nya ^^

senja mengatakan...

hemmm,....ternyata ruang yg membangkirkan inspirasimu ada lah toilet...hihihi

keren pak,diawal yg aku bayangkan sebuah tempat yg jelas jauh dr bayangan toilet,diakhir dapet kejutan :)

bagus bgt...like this

Isti mengatakan...

harus ada private toilet nih kayaknya, dibuat senyaman mungkin..=)

aura kasih mengatakan...

Why not ?
Berbagi foto dan video aura kasih

-Gek- mengatakan...

toilet..
musti rajin digosokin!

yansDalamJeda mengatakan...

>>all; Terimakasih telah singgah di sini.

Toilet emang tempat yang pas untuk membuang segala persoalan, tak hanya urusan perut. Tapi di sana 'Dilarang ngebut!' Don't try this at restroom! hehehe....

Naruto Spoiler mengatakan...

wow, artikel ny berguna bgt nih sob.. cocok bgt bwt mnmbh wawasan ku seputar tema ini..

sob, mengingt blog ni sngt bermanfaat bgt q.. tukeran link yok!!

link blog kamu sudah terpasang di blogku, link balik yach :) silahkan di liat di blogku!!

ntar pasang link ku dengan anchor text "Naruto Spoiler" yach,

dan jdi follower q juga y, siapa thu aja dgn kehadiran blogger se-hebat kamu, blog ku bisa
sedikit rame dan berwibawa gtu.he3

ntar secara berkala q bakal sering-2 silaturahmi kesini..

d tunggu kehdirannya yach :D

salam dari blogger indonesia setengah bule.he3

makasih..

Seiri Hanako mengatakan...

wuahahaha
saya kira ruangan apa

ternyata toilet to..

catatan akhir ........ mengatakan...

Jiaaaahhh kali ini kamu nyangkut dimana ? teilaaaaaa ditoilet mana mas ha.ha..ha...

Seru bahas yang demikian, warna warni, gitu juga aromanya, tapi bagaimanapun adanya dia bisa legakan sedikit hajat kita xi xi xi...

Dannie F Morran mengatakan...

ahhhh...bener banget! setiap orang mengalami nih :)

Irwan Bajang mengatakan...

wahahaha, lupa disiram atau lupa cebok? masih nempel tuh di celana. pantesan pas jumpa awakmu, kok mambu tai ya, mas bro? hahaha

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda