Senin, 04 Januari 2010

Tujuh Ratus Tujuh Puluh Satu Juta

Saya tercengang ketika melihat angka 771.000.000. Siapapun kita yang membaca angka 771.000.000 tak akan menganggap itu adalah nilai yang kecil. Ya, dengan fasihnya kita mengeja deretan kata "tujuh ratus tujuh puluh satu juta".

Jumlah 771 juta bukanlah sejumlah uang yang saya dapatkan dari menang undian tahun baru. Jumlah itu juga bukan jumlah saldo tabungan yang saya miliki di bank. Bukan! Bukan pula rupiah yang hasil bagi-bagi dari skandal Century. Bukan. Tentu bukan. Tentu, kita tak akan setuju dikaitkan dengan angka itu. Dengan bangga kita akan berteriak tanpa mengeja "tujuh ratus tujuh puluh satu juta".

Kita tidak sedang mebicarakan nominal rupiah. 771 juta adalah jumlah jiwa penduduk dunia yang dikategorikan sebagi buta huruf. Dari jumlah itu, 13,2 juta di antaranya diyakini adalah penduduk Indonesia yang berada di tengah-tengah kita dan merupakan bagian dari 39,30 juta jiwa yang tercatat sebagai penduduk miskin Indonesia, 17,75 % dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2007 (Pikiran Rakyat, 22/05/09) Bukankah kita tak mau di anggap bagian dari mereka?! Dengan lantang kita akan berteriak tanpa mengeja "tujuh ratus tujuh puluh satu juta"

Bagi kita, buku bertahun-tahun telah menyapa kita di sekolah atau saat kuliah. Koran barangkali selalu menemani sarapan pagi kita. Internet dan juga blog tentunya, seperti telah menjadi makanan keseharian buat kita. Kita sudah melek huruf, melek teknologi malah dan kita bangga karena tidak di sebut buta huruf.

Kita memang bukan bagian dari tujuh ratus tujuh puluh satu juta di antara mereka. Atau angka  771 juta itu sama sekali tak  memilki arti dan dapat disimpulkan di sini. Hingga kemudian saya mencoba bertanya pada diri sendiri, hanya karena merasa malu disebut sebagai buta huruf. "Apakah saya bisa membaca?" Saya, atau barangkali kita sama-sama meyakinkan diri sebagai orang yang bisa membaca. Kemudian, saya kembali bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya bisa membaca?" Jawaban pertanyaan itu kemudian melintas di saat kita kehabisan kata untuk mengabadikan ide. Merasa seperti buta huruf, dan tak ada kata yang bisa di tulis dan dibagi. Saya pun lupa, kemudian sedikit mengelak dan berapology, "hanya tak biasa membaca".

13 Jejak Yang Tertinggal:

ivan kavalera mengatakan...

Tapi semoga saja 771 juta jiwa itu gak butahati ya, sob. Nice post mas. Apa kabar nih?

Latifah Hizboel mengatakan...

Sepakat dengan Ivan,walau 771 juta jiwa tertinggal dengan buta huruf semoga hati mereka tidak buta.

Newsoul mengatakan...

771 juta angka buta huruf penduduk Indonesia, artinya pe-er kita masih banyak. Ayo kita bantu gerakkan mmeberantas buta huruf.

DESFIRAWITA mengatakan...

Ya, semoga saja hati mereka tidak buta.
Setuju banget tuh, ayo kita berbagi ilmu demi memberantas buta huruf

Lina mengatakan...

mari berbuat sesuatu untuk berperan dalam pemberantasan buta huruf

ninneta mengatakan...

semoga segera berkurang angka mengerikan itu ya.....

selamat tahun baru yaaaaa

Berry Devanda mengatakan...

semoga angka tersebut bukan tingkat pengangguran di afrika...atau segala-sesuatu yang menyesakan dada...
salam kenal

sibaho way mengatakan...

wadow... yg 13jutaan itu pada dimana yak?

yans'dalamjeda' mengatakan...

Barangkali ini hanya refleksi awal tahun bagi saya. Memaksa untuk menulis, menulis, menulis tapi lupa untuk membaca, membaca dan membaca.

Reni mengatakan...

771 juta..? Tergagap aku membacanya... sebanyak itukah jumlah orang-2 yang buta huruf di dunia ini ?

Rizky2009 mengatakan...

bingung mau coment apa.....

Munir Ardi mengatakan...

surprise ternyata pekerjaan guru masih banyak kali ya

Hasan Joe mengatakan...

Berat kata-katanya hehe gimana mau ga meleleh yang baca kwkwk hasan-joe

Posting Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda