Rabu, 17 Juni 2009

Selayaknya

Selayaknya
Kita tak mempertanyakan kembali apa arti saudara.
Meski tak lahir dari perut yang sama
Kita berjalan pada jalan yang sama.
Melewati terik matahari
Dengan cucuran peluh penuh debu.
Dan kita tertawa bersama
Melihat dunia yang gerah berselimut kemunafikan.

Kita mungkin sadar
Bersama kita berada di sana
Kau berlari dengan sangat kencang
Mengejar bayanganmu yang membawa lari mimpi-mimpimu.
Dan kitapun lupa tetesan peluh kita yang tertinggal
Meresap bersama dalam tanah bersama air kencing mereka yang kau maki
Membekas di ujung sepatu mereka yang pernah kau rangkul pundaknya
Dan tertinggal dalam kamar remang-remang berwarna abu-abu
Aku tak ingin mengejarmu.

4 Jejak Yang Tertinggal:

eden.apesman mengatakan...

mengapa mesti menyerah pada keadaan, jari tanpa kelingking terasa tidak lengkap... cobalah sejenak berpikir pada posisinya, karena aku yakin seyakin kamu jedah menata kita kembali untuk lebih berarti. do it....

Yans "dalam jedah" mengatakan...

@eden: bukannya menyerah pada keadaan. hanya memilih jalan yang berbeda. sekedar berharap untuk lebih berarti. tks ya......

reni mengatakan...

Kok aku gak pernah bisa ya membuat puisi sebagus itu..? *iri mode on*

setiakasih mengatakan...

saya juga ingin tahu juga ya gimana caranya menulis dengan bahasa yang mendalam sekali sperti kamu. aku cuma bisa menulis di permukaan aja..

Posting Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda