Sabtu, 06 Juni 2009

Ketika Bidadari Itu Pergi


Sejak malam itu, Ibu tak lagi menceritakan dongeng-dongeng yang biasa ia ceritakan sebelum aku terlelap tidur. Tentang bidadari-bidadari yang selalu menjaga padi yang tumbuh di sawah-sawah kampung kami.
"Mereka tak akan pergi sebelum padi-padi itu menguning" kata ibu.
Juga dewi-dewi yang turun dari khayangan dan mandi di sungai yang bening di belakang rumah kami. Menari-nari di bawah sinar rembulan yang berkabut dan mengelilingi bumi sebelum kembali ke surga.

Sesekali pernah ibu menceritakan kepadaku tentang…Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Itupun hanya sekali saja. Karena aku terlau asyik bermain bola atau sekedar melambungkan layang-layang di lapangan yang tak jauh dari rumah hingga sore sekali dan lupa waktunya untuk mandi. Hanya malam itu ibu mendongengkan Malin Kundang. Mungkin agar aku tak nakal lagi. Dan akupun berjanji akan menjadi anak yang baik.

"Aku tak ingin jadi batu Bu…."pintaku sambil berbaring di pangkuannya.
Ibu mengelus rambutku dengan lembut. Dan setelah itu Ia tak pernah menceritakan tentang anak durhaka itu lagi.
"Apa bidari-bidadari itu masih di sana dan menjaga sawah-sawah di kampung kita Bu?" tanyaku keesokan harinya.

Sejenak ibu diam dan menatapku. Lalu kembali mengaduk panci berisi beras yang dibagikan oleh posko-posko bantuan di pengungsian. Ya..pengungsian. Kami tinggal disini sejak sekitar sebulan lalu, beberapa hari setelah bencana pengeboran minyak itu bocor. Ketika bidadari-bidadari itu pergi……….
Semuanya tiba-tiba berubah. Kehidupan orang-orang yang dulu guyub, kini telah tiada. Kampung kami tiba-tiba menjadi sepi. Kegiatan orang-orang pemerintahan di balai desa mati. Demikian juga kegiatan ekonomi masyarakat di kampungku. Tak ada lagi anak-anak kecil berlarian di jalan-jalan. Tak terdengar lagi riuh ibu-ibu ngerumpi di pojok gang seraya menunggu penjual sayur.
*********

Aku menghampiri Susi setelah ujian sekolah selesai. Disini. Dipengungsian ini. Ia sibuk memain-mainkan bonekanya. Wajah cantiknya kelihatan sedih. Susi menatapku setelah mendengar langkah kakiku mengahampirinya. Matanya sembab berkaca-kaca sampai-sampai aku bisa melihat bayanganku di kedua matanya. Itu yang biasa kulihat setiap hari. Setiap malam dan pagi.

"Ujian di tempat terbuka enak ya. Bisa sambil tiduran" hiburku. Dan ia masih diam saja. Masih sedih saja.
Beberapa orang dari lembaga yang aku lupa namanya, mencoba menghibur kami. Dengan perlombaan yang sengaja dibuat khusus untuk kami. Untukku, Susi, Putri juga untuk anak-anak yang lain di pengungsian ini. Mereka seolah-olah benar-benar menyayangi kami. Seolah-olah mengerti apa yang kami rasakan. Keluguan kami justru menghibur mereka.
Jelas mereka tak mengerti mengapa aku mewarnai langit dengan warna kelabu dalam lomba mewarnai kemarin, juga sungai dan sawahnya.
Tak ada yang seperti dalam cerita yang biasa ibu dongengkan.

"Tak ada gambar bidadari di situ"
"Apa bidadari-bidari itu telah kembali ke surga dan tak akan kembali lagi ke kampung kita?"tanya susi pelan.
"Apa kita punya salah sehingga bidadari-bidadari itu kembali ke surga? Dan apa kampung kita sudah seperti neraka buat mereka sampai-sampai tak mau menjaganya lagi?".
Aku tak menjawab pertanyaannya, sementara puluhan pertanyaan yang tak mampu kujawab sendiri, terus menggelinding seperti bola sepak yang biasa aku tendang di lapangan dulu.
Apakah semua ini akibat kesalahan kami. Kepada Tuhan mungkin?! Atau keserakahan mereka pada alam, sehingga alam menjadi marah? Atau………………….

Ach…mungkin aku terlau kecil untuk bisa memahami semua yang terjadi. Mungkin juga tak dipahami oleh Susi, Putri, juga oleh anak-anak lain di pengungsian ini. Mengapa bidadari penjaga itu pergi. Mengapa tiba-tiba pasar yang belum ditempati ini menjadi ramai sekali. Bukan oleh penjual atau pembeli.
"Aku benar-benar tidak mengerti".

Orang-orang datang beramai-ramai disini. Seperti ada tontonan baru yang dijadikan tempat untuk rekreasi. Ada yang jalan kaki, ada yang membawa gerobak, ada yang membawa mobil warna-warni. Hitam, biru, hijau, kuning. Aku pernah bermimpi menaikinya. "Bagus sekali". Pakaiannya juga rapi-rapi. Orang-orang yang lain menyambutnya dengan wajah sumringah. Ada yang membukakan pintu mobil untuk orang-orang itu, seperti hendak menawarkan barang. Lalu mereka turun dari mobil bergantian. Duduk-duduk dan berkumpul, ngobrol-ngobrol lalu melepas tawa.
"Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan". Aku benar-benar tak mengerti.
Mereka lalu berkeliling melihat blok-blok yang kami tempati. Wajahnya ceria, dan selalu tersenyum. Aku pernah melihat beberapa dari mereka di tivi.

Mereka kelihatan lelah sekali setelah berputar-putar. Lalu berkumpul dan duduk-duduk lagi. Ngobrol-ngobrol lagi. Lalu tertawa lagi. Aku masih tak bisa mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Kita tidak usah bersedih lagi. Uang akan segera kita bagikan". Tiba-tiba wajahnya menjadi lucu sekali. Dan benar-benar menghibur kami disini.
Seperti membeli barang dagangan yang mereka inginkan, setelah itu mereka pergi. Pakaiannya masih tetap rapi dan membawa kembali mobil yang warna-warni itu kembali. Mereka benar-benar pergi. Melewati jalanan kota yang berdebu. Keesokan harinya, rombongan yang lain datang lagi. Begitu yang aku lihat setiap hari.

Ketika bidadari-bidadari itu pergi…………………….
Meninggalkan kampung kami. Malah membawa kesibukan sendiri buat orang-orang yang biasanya duduk-duduk di kursi empuk di kantor-kantor mereka. Memaksa mereka untuk lebih dekat melihat kami. Mereka kelihatan lebih berguna. Aku masih tak mengerti apa yang mereka inginkan.
Semuanya kembali lengang. Beberapa orang masih terlihat berkumpul di sudut-sudut pengungsian. Duduk, ngobrol-ngobrol dan tertawa. Ada juga yang menata mimik wajahnya sedemikian rupa menyerupai wajah-wajah kami. Dan aku tak mengerti apa yang mereka lakukan. Mungkin juga tak dimengerti oleh Susi, Putri juga oleh anak-anak lain di pengungsian ini.
***********

Ketika bidadari-bidadari itu pergi………………
Dan langit gelap pun mulai menghampiri dan melengkapi kesunyian kami. Kembali aku berbaring di pangkuan ibu.
"Sampai kapan semua ini berakhir bu? Aku ingin segera pulang."
Ibu hanya diam sembari mendekap tubuhku. Pertanyaan itu membuat tangan lembutnya mengelus rambutku. Sejenak ia menatapku dengan mata yang mengguratkan kesedihan. Aku masih terjaga ketika azan Subuh masih di telinga. Mataku tak bisa terpejam. Mungkin Susi, Putri dan anak-anak yang lain juga. Karena merasa tak pasti sampai kapan berada di sini.

Aku juga tak mengerti. Sungguh tak mengerti apakah aku harus bersedih atau justru senang dengan semua ini. Tapi aku tetap ingin semua ini segera berakhir. Mungkin kalau semua ini tidak segera berakhir, Sumber Porong akan sesak terisi orang-orang hanya menunggu harapan-harapan dari ketidak pastian seperti kami.
Tapi aku yakin, bidadari itu pasti akan datang. Membawa pesan dari surga. Mengembalikan semuanya. Mungkin esok, atau lusa. Aku tak akan pernah berhenti berharap. Tapi aku tetap ingin pulang. Dan bermimpi tentang bidadari itu kembali…………..

(Didedikasikan untuk anak-anak korban luapan lumpur panas Lapindo Brantas Inc. di Porong- Sidoarjo)

9 Jejak Yang Tertinggal:

Newsoul mengatakan...

Ketika bidadari-bidadari itu pergi....., maka berdoalah agar ia datang lagi.

reni mengatakan...

Ketika bidadari-bidadari itu pergi.., tak berarti harapan kita ikut pergi bersamanya.

Nice posting. Aku merinding membacanya.

Yans "dalam jedah" mengatakan...

@Newsoul n reni: Semoga........................
smua 'kan baik-baik saja. Do'a kita semua smoga dapat mengembalikan semangat dan harapan yang masih tersisa dari smua ibu dan anak-anak yang menjadi korban Lapindo brantas Inc. Karena korban yang paling menderita adalah kaum perempuan dan anak-anak. Tks.... buat smua yg tlh singgah sejenak untuk membacanya.

eden.apesman mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
eden.apesman mengatakan...

semoga bidadari mau datang kembali bersama semaian musim padi.
susi, putri salut... kalian hebat.

Fanda mengatakan...

Jangan pernah berhenti utk berharap!
karena bidadari itu pasti datang lagi,
meski semuanya tak akan sama lagi,
tapi pasti ada sesuatu yg lebih baik dari hari ini!

riosisemut mengatakan...

Salam kenal Sob, postingannya puanjang bener.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

cerpennya bagus. kenapa gak dikirim ke media cetak?

yans"dalamjeda" mengatakan...

Aku merasakan penderitaan mereka. meski tak semenderita seperti apa yang sesungguhnya mereka alami. karena aku pernah singgah di sana, bersama segenap kesedihan dan kesenangan mereka.

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda