Senin, 05 April 2010

Delay


Sebelum aku pergi, dalam hati pernah berjanji untukku kembali. Dan aku akan kembali, sesuai janjiku. Kemudian bercerita tentang tiap jengkal kisah perjalananku.

"Lama aku menanti hari ini". Sepertinya merpati akan benar-benar membawaku terbang mengantarku pada pertemuan yang kita janjikan sebelum aku pergi. Ia pula yang pernah mengajarkanku untuk selalu menepatinya, meski aku bukan merpati yang tak pernah ingkar janji.

"Aku menunggumu". Kau membisikkan itu di telingaku dengan suaramu yang pelan, mencoba mengingatkan.

Hujanpun turun perlahan hari ini. Membawa bayang senyummu menemuiku kembali.  Tiap rintik turun mengalun, menarikan tarian langit yang ia persembahkan untuk bumi. Gemericik merdu saling berebut dan bersahut. Bersenandung simfoni. Semua terrangkai hingga membentuk bayang senyummu, utuh. Seakan memanggilku untuk segera datang menemuimu.

Kau tahu, tanah Bugis yang kupijak hari ini seakan enggan pula  melepasku untuk pergi meninggalkannya.  Benteng Rotterdam yang dimilikinya seperti manghalangi. Barangkali belum puas ia menerpakan sepoi angin pantai Losarinya di wajahku, layar Phinisi hanya mampu sedikit mengembang, belum sempat mengantarkanku berlayar sembari memamerkan keanggunan dan kegagahannya, belum sempat pula memecah ombaknya yang gemulai. Sementara aku harus segera menyudahinya dan segera menemuimu kembali.

"Lama aku menanti hari ini". Merpati yang akan segera membawaku menemui janjiku, delay. Berjam-jam aku menunggu, sepertimu yang sedang menungguku.

"Aku menunggumu". Bisikmu sayup terdengar di tengah delay kepulanganku, mengingatkanku untuk tak mengingkarinya. Hanya delay, sebab aku bukan merpati yang tak pernah ingkar janji.

Sebentar, biarkan sejenak kupandangi jejakku di tanah ini, sebelum ia benar-benar kutinggalkan. Dan mataku terus saja memandang. Kelak, hanya angin dan ombak yang mempertemukan.

waktupun berlayar
dari getar ke getar
Langkah-langkah terus mengejar*
 
*penggalan puisi D. Zawawi Imron; Berlayar di Pamor Badik

14 Jejak Yang Tertinggal:

ika_SweetyOrange mengatakan...

I luv Makassar_ I luv Indonesia, kupu2nya bantimurung tidak terbang menemani kepulangannya?? hehe.. salam kenal yans.. (^_^)

Desfirawita mengatakan...

Sejenak, ku biarkan kau raup jengkal demi jengkal perjalanan mu di sana, sampai akhirnya berujung pada jalan pulang, ketempat ku selalu menunggu mu...
:D

Mayyadah Or Maya mengatakan...

aku juga sdg menunggu satu hari dmana aku bs pulang kembali
menikmati angin losari dan lzatnya coto makassarrr....

celebes, miz u lot;(

aviorclef mengatakan...

-_-_-_-_-_-_-Cosmorary-_-_-_-_-_-_-
*******Salam ‘Blog’!!*******
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Wahhhh,,^_____^
Hehehhehehhe....

-_-_-_-_-_-_-Cosmorary-_-_-_-_-_-_-

yansDalamJeda mengatakan...

"Semua puisi saya tentang Bugis-Makassar ibarat nyawa saya adalah tintanya," begitu ucap D Zawawi Imron.

Itik Bali mengatakan...

Delay membuat orang menunggu
menunggu adalah hal yang menjemukan
Delay = menjemukan

Qoirina Nur Kamastyaka mengatakan...

Adalah sebuah kesempatan yang luar biasa ketika bisa menyampaikan sebuah bisikan "Aku menunggumu"
Adalah sebuah kepentingan ketika kata itu dihargai dan dibalas dengan bisikan "Aku akan kembali, menjemputmu"

irarachma mengatakan...

masih ada kisah secangkir kopi dan sepotong senja dan tentang lelaki samudra. Aku menikmati kerinduan ini
Terimaksih!

Seiri Hanako mengatakan...

menghanyutkan...

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Sayang sekali nggak sempat ketemuan bang..

yansDalamJeda mengatakan...

Ada banyak kenangan yang tertinggal di tanah Bugis. Suatu hari, ia akan bercerita kembali.....

ALRIS mengatakan...

Banyak komeng berpuisi.
Dari saya salam kenal.

Ivan Kavalera mengatakan...

Sayang banget kita gak sempat kopdar waktu itu ya mas.

munir ardi mengatakan...

dari jauh membawa rasa menginjakkan kaki ke tanah para karaeng, sayang sekali tak bersua dengan satu orang pun seandainya mungkin mas datang sekarang disaat semua urusan sekolah udah rampung mungkin ......

Posting Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda