Rabu, 30 Desember 2009

Hujan Di Penghujung Desember

Aku tak tahu, tak benar-benar tahu kalau kau begitu menyukai hujan. Selalu mengaguminya. Mengingatkanmu kembali tentang cerita-cerita lucu yang selalu membuatmu tertawa. Sesekali kau pernah mengeluh tentangnya, tentang hangatnya pelukan yang kau lewatkan. Tak pernah kau melempar kesal dan menyalahkan hujan. Ia turun memang sebagai anugerah, seperti katamu.

Sore itu, kau berharap hujan segera turun. Segera pula menghapus rindu yang hinggap melengkap hatimu yang gundah. Ya, barangkali rinainya akan menghapus bayangan wajahnya dari matamu. Rintiknya yang mengalun, mengusir kegerahan yang membuatmu layu.

Hujan memang tak singgah di sana. Tapi menyapaku di sini, di sore ini.
Aku menikmati rinainya dari teras yang berbeda, dengan leluasa. Sesekali, rintiknya memercik menyentuh wajah, membuatku kuyup olehnya. Kubiarkan hujan membelai, sengaja hingga membuat tubuhku benar-benar basah. Sementara hujan yang kau harap belum juga turun di tempatmu. Dan kau masih memandangi langit dari balik jendela tempatmu mengurai mimpi yang masih berserakan.

Kubayangkan kau begitu riang menikmati hujan yang turun di penghujung desember ini. Memandangimu dari teras tempatku menikmati secangkir kopi. Hujan, membuatmu menari kegirangan, begitu riang hingga payung yang menutupi wajahmu tanpa sengaja gagangnya lepas dari pegangan.

Setelah ia reda, lihatlah bayangan yang terpancar dari genangan air pada tanah basah yang memantulkan senyummu. Hingga puas, hingga terobati rasa rindumu. Barangkali tersimpan ribuan kenangan, yang masih tersisa di sana, tentangmu dan hujan. Hingga teramat sayang untuk kau lewatkan. Sepertiku, ia menyimpan banyak kisah. Membuka banyak kenangan sebanyak rinai yang ia punya.

Kau tahu?! Kita sama-sama mengagumi hujan. Sama-sama menikmatinya meski tak ada kisah kita yang tersimpan di antara butirannya.

11 Jejak Yang Tertinggal:

Munir Ardi mengatakan...

Jika kita berdua sama sama menyukai hujan mengapa kita tidak bersama merajut kisah dan memulainya agar hadir sebuah kisah baru, sehingga jika turun hujan yang lain kita bisa menikmatinya bersama

Munir Ardi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Newsoul mengatakan...

Ya, kita sama-sama menyukai hujan sobat. Meski hujan kita rinainya tak sama. Hujan, seperti katamu, selalu memberi kilau hikmah. Semoga kita mengambil hikmah yang baik pada setiap hujan.

Yunna mengatakan...

hujan selalu membawaku terbang dan mengenang masa lalu...

DESFIRAWITA mengatakan...

Kau tahu?! Kita sama-sama mengagumi hujan. Sama-sama menikmatinya meski tak ada kisah kita yang tersimpan di antara butirannya.

aku suka banget kata-kata itu. Seolah2 kata itu ditujuan untuk ku yang sedang menunggu hujan

Aku selalu suka cerita tentang hujan

Lina mengatakan...

hujan,
kamu,
aku,
kita,
romansa,
dingin,
sejuk,
indah.

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Hujan selalu membuat saya menerawang tentang anugerah yang dikandungnya dan bahaya yang ditibulkannya serta kenangan yang pernah singgah di hati saya.

Ari mengatakan...

Waduhhh...
Hujan buat aku kadang terhanyut.
Terhanyut dalam kenangan lalu,
Ketika seorang gadis bertubuh ringkih,
kulepas paksa dari hati ini.

Betapa remuk redam hati ini
berderak pilu berderai petir.

dibalik punggungmu aku hanya berbisik,
Kaulah cinta sejatiku,
Walau badan terpisah,
Hatiku selalu untukmu.

Henny Y.Wijaya mengatakan...

mari sama-sama menatap rintik hujan *eh, salah..tetesan hujan* deres bangett..

duniaira.blogspot mengatakan...

Kita sama-sama mengagumi hujan. Sama-sama menikmatinya meski tak ada kisah kita yang tersimpan di antara butirannya......
Kata-kata yang akan aku pegang selamanya!!!

latifah Hizboel mengatakan...

Rinai hujan memang indah akupun menyukainya,aku ingin lari dibawah guyurannya ,tapi takut basah hehe

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda