Rabu, 25 November 2009

Potret Guru Oemar Bakrie

"Oh, ibu dan ayah
Selamat pagi
kupergi belajar sampai kan nanti
Selamat belajar nak penuh semangat
rajinlah selalu tentu kau dapat
hormati gurumu sayangi teman
itulah tandanya kau murid budiman"

Lagu itu kembali terngiang sembari membuka ingatan kita pada masa kanak-kanak dengan seragam merah putihnya waktu itu. Terbayang pula wajah-wajah yang telah mengajarkan kita tentang banyak hal, hingga kita tidak merasa menjadi orang bodoh dan telah menjadi seperti sekarang.

Mereka lebih akrab kita sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka adalah Guru. Pekerjaan mulia mengajar dan mendidik ratusan murid setiap tahun barangkali baginya adalah pangabdian. Sungguh, mereka tak ingin dianggap berjasa. Meski mereka telah melahirkan banyak profesor, dokter, insinyur dan ratusan gelar yang lain. Bertahun-tahun lamanya, hingga tak terhitung jumlah kapur tulis yang ia goreskan di papan demi mencerdaskan anak didiknya, penerus bangsanya. Beradu dengan keringat yang menetes dari kening hingga membasahi ujung kerah bajunya. Kesejahteraan menjadi sekedar harapan terkalahkan ketulusan dan kejujuran sebuah pengabdian. Sungguh, kesejahteraan itu memang layak mereka dapatkan.

Tapi, sungguh luar biasa perubahan yang terjadi. Pada kurun waktu terakhir, derajat mereka ditinggikan, oleh pemerintah gaji mereka dinaikkan, ditambah dengan beberapa tunjangan yang membuat keluarga mereka menjadi lebih sejahtera. Tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan nasib mereka jaman dulu. Jaman Oemar Bakrie yang mengajar hanya berbekal tas hitam dari kulit buaya dan sepeda kumbangnya. "Menjadi guru jujur berbakti memang makan ati" begitu nyanyian sumbang pernah terdengar untuk Oemar Bakrie yang ia sendiri seringkali tak pernah merasa gaji mereka seperti dikebiri.

Saat ini tiba-tiba profesi pengajar, sebagai guru menjadi pilihan banyak orang. Mengesampingkan gelar yang mereka sandang. Pahlawan tanda jasa menjadi barang rebutan di tengah lapangan kerja yang menyempit. Diperburuk sistem pendidikan yang dianggap banyak orang salah kaprah dan banyak kelemahan di sisi-sisinya. Pada akhirnya kode etik hanya sebagai buku pegangan saja. Sedikit menyisakan ketulusan untuk mereka merasa terpanggil menunaikan karyanya di sela pengabdiannya. Peran mereka hanya sebatas pengajar dalam proses transfer ilmu pengetahuan semata. Kurikulum menjadi barang sakral yang hanya sekedar mempersiapkan siswa menghadapi kelulusan ujian akhir sekolah. Barangkali semakin terkikis hingga tak menyisakan rasa berbakti membimbing peserta didik membentuk sosok pribadi manusia yang utuh dan bertanggung jawab sesuai potensi yang dimiliki. "Menjadi guru jujur berbakti memang makan ati", nyanyian untuk Oemar Bakrie pun kembali nyaring terdengar, beradu dengan kesejahteraan yang mereka perebutkan.

Tiba-tiba pula kembali teringat gerutuan saya untuk membangkitkan minat baca. Barangkali hanya sekedar untuk membuat guru yang dulu telah mengajari banyak hal kepada saya dengan keikhlasan dan kejujuran agar tidak merasa gagal, menjadikan saya sebagai murid yang budiman seperti lagu di atas. Hingga pada akhirnya saya merasa harus menyadarinya bahwa tak ada guru yang gagal, yang ada hanya murid yang malas.

Terimakasih Guru. Selamat Hari Guru untukmu. Masa depan anak bangsa ada ditanganmu.

Ruang Baca:
Menyoal Sistem Pendidikan Kita
Sebuah Renungan dari Sistem Pendidikan Kita

13 Jejak Yang Tertinggal:

ivan kavalera mengatakan...

Oemar Bakrie (2 x)..bikin otak orang seperti otak Habibie
tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie seperti dikebiri?

Selamat Hari Guru 25 Nopember

Vicky mengatakan...

Sebenarnya ada guru yang gagal. Tepatnya guru yang gagal mendidik muridnya untuk punya mental produktif.

Munir Ardi mengatakan...

hanya sebagaian mas buktinya saya dengan kanda setiawan belum ngerasakan tunjangan-tunjangan itu

-Gek- mengatakan...

Terima kasih ucapannya Mas.
Saya bangga jadi seorang guru. :)

Munir Ardi mengatakan...

terimakasih atas postingan luar biasa ini mas

Newsoul mengatakan...

Bagimanapun saya bangga dengan sosok Oemar Bakrie itu. Selamat merayakan Hari Guru Nasional kepada para guru di seluruh tanah air.

Sungai Kuantan mengatakan...

selmat hari guru sobt...
semoga jasa-jasa mereka diblas dgn setimpal di akhirat kelak...

sibaho way mengatakan...

Hah... lupa mengucapkan hari guru buat adikku di pedalaman Nias sana :)

yans'dalamjeda' mengatakan...

Ketulusan mereka, kejujuran mereka, layak mendapat penghormatan yang luar biasa dari anak bangsa.
Selamat Hari Guru.............

TRIMATRA mengatakan...

meski begitu ternyata kenaikan kesejahteraan guru belum banyak bisa dinikmati semua guru di pelosok negeri ini.

masih banyak kok bahkan diperkotaan sekalipun "Menjadi guru jujur berbakti memang makan ati"

Irwan Bajang mengatakan...

GUru, selalu saja sejak dulu diseragamkan di kepala kita sebagai seorang yang naik sepeda, gaji pas2an dan banyak ditentang gurunya.
bahkan iwan fals sebagai seorang penyanyi nasionalis tak bisa mangkir dari penyeragaman itu, terbukti, oemar bakri menjadi lagu yang fenomenal. saya melihat orba telah menjadikan standarisasi ini seolah wajar di mata kita. bahwa standar hidup guru haruslah seperti itu. bahwa guru harus selalu sabar untuk menjadi orang miskin, dengan sepeda tua, gaji pas-pasan dan segala kemiskinan lainnya, kasian sekali.

semoga, kelak penyeragaman ini bisa terhapu segera dan guru tidak lagi naik sepeda, seperti dalam lagu itu.
:D

Clara mengatakan...

Selamat Hari Guru juga ^^

namanya juga jaman berubah, nggak lucu juga kalo sekarang ngeliat guru keluyuran naik sepeda ontel dan bawa tas kulit buaya (dari segi pandanganku melihat guru yang ada di Jakarta)

Humaira mengatakan...

Oemar Bakti yang kita banggakan slalu.

* Selamat hari guru ^_^

Posting Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda