Rabu, 04 November 2009

Ketika Cicak Menjadi Besar

Entah sejak kapan sosok Cicak muncul di bumi. Ratusan tahun yang lalu, ribuan tahun yang lalu atau sejak sistem penanggalan belum ditemukan. Saya tak tahu pasti. Yang saya tahu, cicak ukurannya kecil, menggelikan dan malah menjijikkan bagi sebagian orang.

Barangkali Cicak yang ini baru lahir kemarin sore. yang keluar dari mulut Kabareskrim Mabes Polri Sisno Duaji ditengah konflik KPK dan Polri. Sebuah pertarungan sengit antara Cicak versus Buaya. Cicak memang kecil. Ukuran kecil sepertinya memang tampak mudah untuk dilahap, sekali telan. Tapi nyatanya tidak. Cicak mempunyai pertahanan yang tidak dimiliki yang lain. Kali ini tak sekedar ekornya lepas, tapi sebuah gerakan penggalangan kekuatan. Sejumlah kalangan ramai menggelar aksi sebagai bentuk dukungan kepada KPK yang kini ditengarai tengah digembosi penegak hukum lainnya. Mulai aksi demonstrasi hingga aksi mogok makan. Bahkan gerakan dukungan ini sedang ramai mewarnai situs jejaring sosial facebook, termasuk akun facebook saya.

Senin kemarin, 02 November 2009 lebih dari 300 ribu facebooker pendukung Candra-Bibit, dua anggota KPK non aktif. Dukungan tersebut mengalir makin deras tak lama setelah rekaman rekayasa kriminalisasi KPK dibuka di sidang MK, kabarnya naik menembus angka 600 ribu lebih. Cicakpun tumbuh menjadi besar hingga saat terbongkarnya skenario besar sebuah drama rekayasa kriminalisasi dua anggota KPK non aktif tersebut. Pada akhirnya  lembaga penegak hukum pimpinan Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri itu menangguhkan penahanan Bibit dan Chandra, tadi malam.

Ketika cicak menjadi besar, menggalang kekuatan meyakini atas apa yang telah dianggap benar dan melawan sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat atas perlakuan yang dianggap tidak adil membuat saya merasa perlu memberi applous. Semangat cicak melawan buaya agaknya menjadi layak ditiru oleh siapapun  yang merasa cicak, yang merasa kecil atas sebuah kebenaran yang diyakini dan perlakuan yang dianggap tidak adil. Menyusun kekuatan atas sebuah tirani yang menindas mereka yang kecil. Meski cicak, tapi berani melawan buaya. Ketika cicak menjadi besar, esok kita bisa melihat perubahan apa yang terjadi atas ketidak percayaan terhadap lembaga hukum yang ada seperti saat ini. Seringkali merasa miris melihat hukum negeri ini, sepertinya sebuah drama yang hanya layak ditonton saja. Namun sekali lagi, sebagai yang kecil kita hanya bisa untuk terus berharap hukum di Indonesia  tercinta ini ditegakkan secara adil dan bijaksana tanpa drama, tanpa rekayasa. Hanya itu dan sesederhana itu.

*gambar dicomot dari Jawa Pos

30 Jejak Yang Tertinggal:

Ateh75 mengatakan...

Bagi kita yg rakyat biasa yg buta hukum ,mungkin hanya dapat melongo menonton bingung ...kok bisa begitu ya ,kok bisa begini ya...paling hanya bergumam sambil menonton...

sibaho way mengatakan...

semoga setelah besar tidak berbalik men-zalimi buaya atau binatang lain yang lebih kecil...

Irwan Bajang mengatakan...

Hmm..cicak2 di dinding diam diam merayap, kalo buaya jauh lebih kecil, dilahap juga gak ya? hahaha
sebuah analogi yang diapakai banyak orang untuk cicak buaya ini. Kita seolah diseragamkan dnegan analogi ini...
tapi enggak apa2lah, toh nggak ada salahnya, dan kita tidak sedang mendiskuiskan istilah...
Saya masih menerka2 sebenarnya pa yang sedang terjadi jauh di dasar segala ini. Sebab saya tak begitu percaya televisi..hehehehehe
KPK bisa jadi sebuah trobosan yang menarik dan cemerlang untuk pemberantasan pemilu. Tapi, kalau mangsa yang diambil adalah mangsa (yang mungkin saja) mangsa2 tertentu, alangkah ironisnya..
Hmmm...semoga saja semua baik2 saja..saya mau cari tahu dulu permasalahan yang mendasar, baru berani komen...


Tulisan ini keren Bung! Lanjutkan!

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Dukungan yang mengalir dari berbagai kalangan bagaikan makanan yang membuat cicaknya jadi gede buanget.......
Tulisan yang mantap.

PUTRI MALU mengatakan...

mampir pertama Kang... Salam kenal
Aku dukung cicaknya.

yans'dalamjeda' mengatakan...

@all; hanya sekedar menuruti gairah yang merayap. Seperti cicak latah.

PUTRI MALU mengatakan...

mampir pertama Kang... Salam kenal
Aku dukung cicaknya.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kecil aja geli, apalagi gede. hii...jgn dong.

Ari mengatakan...

Besar Komodo dong........
Jangan ah.

Tetap Cicak aja. Yang tugasnya makan tukang bikin penyakit, yang senengnya nyedot darah orang miskin.

aLamathuR d'hileudjapanist II mengatakan...

Klo cicaknya dah gede... laku dijual berapa ya?

yans'dalamjeda' mengatakan...

Gerakan cicak semacam ini terjadi karena hilangnya kepercayaan terhadap lembaga hukum yang ada.

ivan kavalera mengatakan...

2 tokek lawan koloni dinosaurus he he

Clara alias Kurara atau Kura mengatakan...

aku nggak ngerti hukum...pusing @.@

Itik Bali mengatakan...

Banyak yang mendukung cicak
Namun hendaklah dukungan ini dijadikan cermin
jangan malah kemudian berbalik arah
Cicak semakin jumawa..
bahaya itu mas

Angel In Black mengatakan...

Namun buaya itu masih juga bertaring besar
entah siapa yang terus mencekokinya dengan daging panggang segar

Pensil Warna mengatakan...

Cicak itu makanannya nyamuk
Buaya makanannya Daging besar
seharusnya mereka tak saling memangsa
sungguh ini fenomena yang aneh

yanuar catur rastafara mengatakan...

wah,sekarang makin menjadi nih antara itu dan itu
aneh dech orang2 atasan itu, pada maenin rakyat kayaknya

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

bagus karikaturnya...
cicak besar karena habis latian gym mungkin, hehe..

tapi memang benar, buaya harus dihajar..

Newsoul mengatakan...

Apalagi, diantara para cicak itu suka beryanyi. Nyanyiannya ini yang sering memerahkan telinga buaya, hihi. Nice post.

Yugata mengatakan...

Wah, sayangnya aku bukan pakar hukum. Sama sekali tidak mengerti hukum.
Sepertinya harus pake logika abnormal supaya match dengan apa yang terjadi.. Weleh weleh..
Nice post! Salam :)

Sari mengatakan...

Yang penting KORUPSI TETAP DIBERANTAS !!!

vie_three mengatakan...

waduuuuhhhh kalau ada cicak yg gede gitu, bisa2 ngalahin komodo dunk.....

yans'dalamjeda' mengatakan...

@all; hanya sekedar menuruti gairah yang merayap. Seperti cicak latah. hehehe.

setiakasih mengatakan...

Cicak kan tetap cicak juga,
Buaya kan tetap buaya fitrahnya,

cuma beda, peluang yang dimiliki mereka.. :)

isti mengatakan...

yup! people power mulai bergerak! Dukung terus KPK!

Munir Ardi mengatakan...

maaf mas nggak bisa koment kalau masalah cicak dengan buaya

becce_lawo mengatakan...

hidup cicak...hidup penegakan hukum di Indonesia...

reni mengatakan...

Ya baru di Indonesia ini aku dengar bahwa cicak bisa bermusuhan dengan buaya *geleng-2 kepala*

Investing mengatakan...

kelebihan cicak, cicak tipe setia. g mata kranjang buaya. Cicak makan nyamuk, g menghisap darah rakyat. Moga saja saya benar

eka wijayanti mengatakan...

:D Cicak dan Buaya, harus baca ini.

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda