Jumat, 02 Oktober 2009

Senja di Sumatera

Masih terlalu pagi bagi kami
Beranjak dari anjuang sekedar melipat songket
Sementara tengkujuh belum tiba membasahi atap-atap gadang
Rangkiang terbelah
Lewat senja yang baru menyapa

Tak ada yang sulit bagiMu memuntahkan isi gunung
Mudah bagiMu meluapkan isi samudera
Juga gampang matahari Kau buat padam
Masih terlalu pagi bagi kami
MenatapMu laksana gonjong
Tapi kalamMu tengah menggema
Dan manusia bertanya "Mengapa bumi?"

Jerit tak juga bisa mencegah
Menambah pilu air mata
Masih terlalu pagi bagi kami
Pada hari itu bumi menceritakan beritanya

Sebagai coba
Barangkali atas lupa dan pongah
Tak mampu menemukan jarum dalam tumpukan jerami
Melihat kuman di seberang lautan
Kau yang Kuasa
Terima ia.................................
*beberapa kata dari terjemah sini dan sini

6 Jejak Yang Tertinggal:

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Subhanallah,....
Untaian syair yang indah.
Masih terlalu dangkal pemikiran saya
untuk menafsirkan semua kalam-Mu.

Newsoul mengatakan...

PeringatanNya bagi kita agar jangan melenakan diri dalam kebodohan dan kelalain.

reni mengatakan...

Jerit dan tangis para korban benar-2 mengiris hati mas...
Semoga mereka diberikan ketabahan.. Amin

bluethunderheart mengatakan...

malam bang
duh blue tuh senangnya minta ampun dech kalau dapatkan post sepertisedemikian ini.........nice
salam hangat selalu

pa cabar?

yans"dalamjeda" mengatakan...

@all; Semoga yang Kuasa memberikan rahmah Nya...
tks.

Herdiansyah Hamzah mengatakan...

Trims dah mampir ya. Salam kenal balik....

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda