Jumat, 23 Oktober 2009

Atas Nama Perbedaan

Beberapa keisengan-keisengan yang muncul dibeberapa post Ruang Jeda akhir-akhir ini, banyak menuangkan beberapa hal entang realitas kita yang nampak timpang. Membuat saya untuk mencoba merangkainya menjadi kalimat yang lebih teoritis tak sekedar uneg-uneg yang menjemukan. Dimensi sosial membawa kita untuk terus bertemu dan bersinggungan dengan orang lain diluar diri kita. Dalam berbagai situasi kita menemui banyak perbedaan. Tak sekedar perbedaan warna kulit atau perbedaan pemikiran dan idiologi. Tapi lebih pada kondisi sosial yang timpang. Dalam satu titik perbedaan tersebut melebur dan tidak bisa dipisahkan. Konsekuensinya adalah apakah kita menerima atau tidak atas berbagai macam perbedaan tersebut.

Ketika Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa dengan beragam bahasa sesungguhnya adalah agar kita saling mengenal. Kita bisa belajar dari perbedaan-perbedaan tersebut. Karena perbedaan pemikiran akan membawa hikmah. Begitu ulama meriwayatkannya.

Tapi bagaimana jika perbedaan dalam hal lain,  yang kalau misalnya kita lihat ada sebutan miskin dan kaya, melarat dan konglomerat, tertindas dan merdeka, menang dan kalah, dan lain sebagainya. Kita selalu bersinggungan dengan berbagai perbedaan yang seringkali justru lebih nampak sebagai sebuah ketimpangan. Apa yang kita lihat dan kita sadari atas perbedaan-perbedaan tersebut?! Ada beberapa karakteristik individu dalam menyikapi perbedaan tersebut yang ditentukan oleh kesadaran atau consiuesness. Kita dapat melihat karakteristik tersebut dengan mendasar pada Kesadaran atau consiuesness yang menurut Paolo Fraiere seorang pakar dan praktisi pendidikan asal Brazil dikategorikan dalam tiga kategori.

Pertama: Kesadaran naif
Dengan kesadaran ini orang melihat perbedaan adalah taqdir semata. Apa yang terjadi dan apa yng kita miliki adalah kehendak tuhan yang tak bisa di kaitkan dengan keinginan manusia. Pepatah jawa ”nerimo ing pandum” yang mendarah daging pada masyarakat dengan menganut kesadaran ini tak berusaha merubah apa-apa dalam realitas sosial.

Kedua: kesadaran transitif
Dengan kesadaran ini orang melihat bahwa situasi hari ini adalah realitas yang berbeda dengan masa lalu. Dengan pandangan ini orang hanya membandingkan saja. Kemudian kita cenderung membangga-banggakan situasi masa lalu tanpa bertanya mengapa relitas tersebut berubah.

Ketiga: kesadaran kritis
Dengan kesadaran ini kita menganggap bahwa berbagai perbedaan realitas yang ada adalah bentukan dari sistem sosial.

Tulisan ini mencoba melihat sebuah perbedaan atas realitas sosial yang ada, sehingga memunculkan beberapa pertanyaan atas nama sebuah perbedaan tersebut. Apakah perbedaan yang selama ini ada di ruang kita adalah bentukan dari sistem sosial yang ada (meskipun kenyataannya adalah demikian) apakah sebuah taqdir? kesalahan Negara? Ataukah sistem sosial yang sedang berjalan saat ini menurut kita ada yang salah? Tentu jawabannya ada dalam kesadaran kita masing-masing. Bisakah situasi tersebut dirubah? haruskah dirubah?

Kenyataannya, ketika kita melihat sebuah kondisi sosial yang ada di sekitar kita seolah-olah memang tak ada yang salah dari perbedaan tersebut. Namun patut kita pertanyakan mengapa realitas perbedaan-perbedaan yang ada begitu timpang dan tidak wajar. Cara kita memandang perbedaan tersebut menentukan sejauh mana kesadaran kita melihat realitas sosial yang ada. Haruslah ada memang yang dirubah, baik secara individu maupun kolektif. Perbedaan tersebut tak sekedar menjadi sarana motivasi dan kompetisi untuk terus berbuat sesuatu yang lebih maju. Sehingga mau tidak mau manusia yang notabene adalah sebagai makhluk sosial yang terus berdampingan dengan orang lain selayaknya tak hanya mengambil hikmah dari berbagai perbedaan tersebut dengan hanya mengucap rasa syukur. Bahwa apa yang kita miliki, apa yang ada pada diri kita memang berbeda. Tak layak jika kita mengganggap lebih rendah dan daripada apa yang dimiliki oleh orang lain. Tak layak pula kita menyombongkan diri atas orang lain yang tidak lebih dari apa yang kita miliki. Kita diciptakan memang berbeda. Tiap individu memiliki keunikan dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Keharusan kita terus berusaha untuk yang lebih baik dengan cara kita.

Membangun kesadaran untuk bisa melihat dan membaca realitas sosial yang terjadi memang tidaklah mudah. Apalagi kita sudah terbiasa dengan paradigma kita untuk menerima sepenuhnya keadaan diri sebagai konsekwensi atas usaha dan apa yang telah kita lakukan. Padahal persoalannya kopleks. Tanggung jawab sebuah negara untuk menciptakan kebijakan yang berpihak kepada rakyat menjadi terabaikan. Namun bila kenyataannya kita melihat perbedaan itu begitu timpang dan terjadi di tiap ruang kita, sekeliling kita, apakah kita melihat perbedaan itu hanya sekedar perbedaan?!



6 Jejak Yang Tertinggal:

ateh75 mengatakan...

Sebuah perbedaan ,Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan perbedaan seperti hidup dan mati,dunia dan akhirat ,perempuan dan laki2,dan lain sebagainya,jadi bila ada perbedaan antara mahkluk sosial itu wajar,Tapi untuk saling membedakan itu tidak wajar contoh antara simiskin dan sikaya,sicantik dan siburuk rupa,karena kesombongan sikaya dan sicantik si miskin dan siburuk rupa menderita...
*Nice post seperti biasa..
btw,aku yg pertama mulu ya hehe...

Henny Y.Caprestya mengatakan...

setuju dengan mbak ateh75. Perbedaan itu diciptakan Tuhan untuk keseimbangan. Pernahkah terbesit dalam pikiran kita apabila semua manusia tidak ada perbedaan, semuanya kaya, semuanya pintar, semuanya cantik/tampan, semuanya berambisi jadi pemimpin suatu negara? apabila hal itu terjadi maka tidak akan pernah ada kehidupan seperti yang sedang kita jalani saat ini.

yans'dalamjeda' mengatakan...

@Ateh75 & Henny Y. Caprestya;
Perbedaan merupakan alih-alih dari yang coba saya maksudkan. Ketimpangan, sebuah ketidak wajaran perbedaan. Saya setuju, keseimbangan memanglah perlu. Atas kondisi yang memang membutuhkan.
Tapi perbedaan oleh sistem yang dibuat manusia, belum tentu sebagai anugerah. Kemiskinan dalam contoh yang saya maksudkan. Ada kesalahan yang itu harus ada koreksi untuk membenarkannya. Oleh kita, lebih-lebih oleh mereka "yang menaungi setiap warga negaranya". Saya mencoba untuk menumbuhkan gairah membaca kondisi sekitar, membangun semangat untuk berubah atas kesalahan. Entah oleh individu atau sebab yang lebih luas dan kompleks, meski kadang dengan keterbatasan kapasitas ini yang mampu tertuang. Dan ini adalah proses saya untuk belajar.

Terikasih atas masukannya. Sangat bermanfaat tentunya buat saya. Apalagi perbedaan pemahaman itu tak sekedar atas penafsiran kata atas kalimat yang memang tdk begitu tertata. Tks sudah singgah dan sudi membaca.

Munir Ardi mengatakan...

Sebenarnya perbedaan itu bknlah ketimpangan itu sunnatullah agar terjadi dinamika dan interaksi bygkan kl didunia ini semua sm pasti kaku dan membosankan

duniaputri mengatakan...

namanya juga manusia. kalok sama sih robot dong. eh, ngebahas yin yang yak? cuma,, bener tuh.. yang miskin akut sampe yang tajir (kaya) mampus ada-ada ajah... mbok ya yin yang tapi ga ekstrim. gitu? mmm...

yans'dalamjeda' mengatakan...

Mengutip paragraf terakhir, Membangun kesadaran untuk bisa melihat dan membaca realitas sosial yang terjadi memang tidaklah mudah. Apalagi kita sudah terbiasa dengan paradigma kita untuk menerima sepenuhnya keadaan diri sebagai konsekwensi atas usaha dan apa yang telah kita lakukan. Padahal persoalannya kopleks. Tanggung jawab sebuah negara untuk menciptakan kebijakan yang berpihak kepada rakyat menjadi terabaikan.
Wallahu a'lam.
tks atas sharingnya.

Posting Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda