Kamis, 09 September 2010

Maaf saja. Kau dan aku, satu sama lain

Coba kau ingat, kapan pertama kita saling bertukar nama dan kemudian saling mengenal? Atau, sudah berapa kali kau dan aku saling memanggil dan menyapa?
Cukup lamakah?

Entah, sudah berapa lama kita menghabiskan waktu saling berbagi, bertutur dan bercengkerama sembari ditemani secangkir kopi?
Atau, bersama melepas senja dengan tawa riang kita, dan kita saling melempar senyum ketika temaramnya berganti cahaya lampu kota.

Tak jadi soal, sebentar atau sudah cukup lama.
Barangkali saat hujan turun, gemericiknya yang mengalun membuat kita teringat satu sama lain. Kita, kau dan aku. Sebab ada bayang-bayang kita memantul dari balik jendela tempatmu menikmatinya, atau menjelma menjadi suara yang mencoba memanggil dari teras depan rumahmu. Coba kau tengok, barangkali itu benar-benar aku.

Waktu berlalu. Benar, tak jadi soal sebentar atau sudah cukup lama.
Lalu, bisakah kita tak saling mengingat, aku yang pura-pura tuli saat kau panggil namaku. Atau aku yang sedang acuh, asyik sendirian dan mengabaikan senyum darimu itu. Sebab aku tak sedang mencoba mengingat, entah kapan terakhir kalinya aku melempar senyum kepadamu. Entah kapan pula kau memuji dan menggoda hingga membuatku tertawa. Kadang-kadang semua rasa tiba-tiba terhapus begitu saja, bahkan mungkin kita sengaja mencoba menghapusnya. Agar menjadi tak tersisa kenang itu ada. Sebab, barangkali tanpa sengaja, ada kata yang membuat kita marah. Tanpa terduga, ada sikap yang membuat kita saling membenci.

Hari ini......
Barangkali tak kau terima kartu lebaran yang tertuju pada alamatmu. Atau sekedar pesan singkat di layar handphonemu dari nomorku, berisi rangkaian ucapan Selamat Idul Fitri dan permintaan maaf.
Kita memang tak pernah berikrar, menjadi apa dan siapa. Tapi aku yakin, kita saling memberi maaf meski tanpa kata yang terucap. Kata orang, meminta maaf itu mudah, tapi tak mudah untuk memaafkan. Entah, seperti sedang mempertaruhkan gengsi atau mungkin menjatuhkan harga diri untuk sekedar saling memaafkan, tapi tidak bagimu.

Aku tahu, kau orang baik, yang tak pernah mempersoalkan siapa yang memberi maaf atau meminta maaf. Tapi aku akan mengulurkan tanganku kepadamu dan menjabatnya erat. Maaf saja, dengan begitu kita saling melupakan semua salah yang pernah ada. Dan kita hanya memberi sedikit ruang bagi rasa benci atau bahkan tak tersisa di antara kita, kau dan aku, satu sama lain.


Selamat Idul Fitri. Minal Aidzin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin...........

6 Jejak Yang Tertinggal:

Ka Damar mengatakan...

mohon maaf lahir batin

yansDalamJeda mengatakan...

Selamat Idul Fitri
Maaf lahir dan bathin, atas segala khilaf yang pernah ada.

TRIMATRA mengatakan...

SELAMAT LEBARAN HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H, MAAFKAN SEGALA KHILAKUH YAAA,,,,

Saung Web mengatakan...

Sama2 .. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum.
Mohon maaf lahir dan batin .

Latifah hizboel mengatakan...

Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh
Jika hati seputih awan, jangan biarkan dia mendung
Jika hati seindah bulan, hiasi ia dengan iman
Mohon maaf lahir batin

SyariF_oNLy mengatakan...

MET IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN ... :)

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda