Selasa, 17 Agustus 2010

Kemerdekaan dan Lumpur Lapindo dalam Bingkai Proklamasi

Merdeka!!!.......Merdeka!!!
Pekik kata itu yang sering kita dengar dulu, di film-film perjuangan.

Merdeka artinya bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa. Merdeka berarti bebas dari penjajahan, bebas dari tahanan, bebas dari kekuasaan, bebas intimidasi, bebas tekanan, dari nilai dan budaya yang mengungkung diri kita, begitulah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Hanya di film, pekikan kata "merdeka" di ucapkan. Kenyataannya kata itu memang hampir-hampir tak pernah kita dengar lagi. Barangkali memang kita telah lupa cara mengucapkannya. Apalagi sambil berteriak dengan mengepalkan tangan, sebab barangkali kita merasa kemerdekaan itu bukan milik kita. Kemerdekaan itu tak pernah kita genggam. Kemerdekaan hanya milik segelintir orang. Kemerdekaan hanya milik mereka yang duduk di kursi empuk para pejabat. Milik mereka yang berduit, sebab kemerdekaan dengan mudah mereka beli. Di borong habis hingga kita tak kebagian lagi. Katanya sudah merdeka?!

65 tahun sudah. Lebih dari enam dasawarsa bangsa kita tercinta telah memprokamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka. Entah apakah usia setua itu sudah mengantarkan masyarakat dan bangsa kita pada kemerdekaan yang hakiki.

Sidoarjo, di belahan bumi yang masih bernama Indonesia, sebagian masyarakatnya yang menjadi korban luapan Lumpur Lapindo berjuang merebut kemerdekaan yang mereka inginkan. Empat tahun lebih sejak 2006 lalu mereka terusir dari kampung mereka yang tiap tanggal 17 Agustus di tiap tahun mereka kibarkan merah putih di tiang bendera depan rumahnya. Di sanalah dulu, anak-anak mereka menghormati kibaran merah putih sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya di halaman sekolah setiap Senin saat upacara bendera.

Hingga kini, sejak beberapa hari sebelum puasa tiba, sebagian dari mereka mengadukan nasib kepada orang-orang yang duduk di kursi Dewan, orang-orang yang mereka pilih saat pemilu kemarin dengan harapan aspirasi mereka dapat tersampaikan. Ssssst…ada Pansus Lumpur Lapindo juga di dalam sana!

Spanduk besar digelar, terbingkai sederhana tepat di pintu masuk Gedung Dewan. Menuntut hak sebagai bangsa yang merdeka, menuntaskan ganti rugi yang masih belum terbayar lunas.

Seorang kawan sebelah saya yang juga masih merasa belum merdeka, setelah melihat foto Soekarno, Sang Proklamator di spanduk itu, merasa iba dan kemudian dengan heroik menirukan gayanya saat memplokamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Proklamasi
Kami warga lumpur sidoarjo...dengan ini menginginkan SBY-BOEDIONO
untuk melepaskan warga dari belenggu-belenggu LAPINDO.
Hal-hal yang mengenai penyelesaian pembayaran dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo... yang secepat cepatnya.
Sidoarjo, 17 Agustus 2010
Atas nama warga Sidoarjo.....

Entah, barangkali ia tak tahu apakah ucapannya melecehkan negara atau tidak. Hanya saja ia merasa iba, sebab ia rasa, bangsanya belum merdeka, masih tertindas dan terjajah. Bukan oleh Belanda, tapi oleh bangsanya sendiri.
“Belanda masih jauh!”, begitulah guyonan lama yang sering kita dengar.
    Dan di belahan lain yang juga masih bernama Indonesia, mereka masih juga merasa kecewa.
    Entah, apakah memang kita sesungguhnya belum merdeka?!
    Mari terus bersatu. Berjuang membuka pintu gerbang kemerdekaan. Mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Merdeka!!!
    baca juga;

    12 Jejak Yang Tertinggal:

    siroel mengatakan...

    miris sob, sudah 65 th, tapi msh byk hal yang blm merdeka secara hakiki....


    salam merdeka!!!

    Winner mengatakan...

    Inilah Indonesia,,!!! Namun demikian, KITA HARUS TETAP BERJUANG MENCAPAI KEMERDEKAAN YG SEBENARNYA..!

    Ka Damar - 65 kemerdekaan indonesia mengatakan...

    MERDEKA !!!

    mohon sumbangan suaranya di http://prasutan.blogspot.com/2010/08/65-tahun-indonesia-merdeka-ya-sudahlah.html

    Raa mengatakan...

    kita masih belum merdeka Yans!
    Kita masih di jajah oleh bangsa kita sendiri
    DI jajah dengen pikiran-pikiran picik "membunuh" sebuah "angkatan"
    Huh...
    "bdw, sing moco koncomu opo koncoku seng jenenge yanesss...hehehehe"
    Merdekakan diri kita Bung!

    Newsoul mengatakan...

    Ya, bagi saya kmeerdekaan adalah soal melepaskan diri dari belenguu (Kebodohan, kemiskinan, kefasikan. dll). Bila masalah Lumpur Lapindo, ledakan tabung gas 3 kg masih belum tuntas, artinya kita belumlah merdeka dalam arti yang seseungguhnya.

    Affandi mengatakan...

    Bagus kang...
    salut...
    mohon kunjungan baliknya..
    salam..

    yansDalamJeda mengatakan...

    >>Terimakasih untuk semua yang telah singgah di sini. Merdeka!!!

    yansDalamJeda mengatakan...

    Merdekakan Kami, Pak Presiden!
    http://regional.kompas.com/read/2010/08/18/07450993/Merdekakan.Kami..Pak.Presiden-14

    ivan kavalera mengatakan...

    Ijin copas proklamasinya ya mas?

    Itik Bali mengatakan...

    Merdeka atau mati
    kita pilih merdeka namun pemerintah memberi pilihan kita untuk mati
    Ironis!

    gafurdjali mengatakan...

    Tanpa kedaulatan tidak ada kemerdekaan.
    Yg merdeka adalah yg berdaulat atas tanah, air dan udara... :)

    Melilea Indonesia mengatakan...

    iya memang tidak aneh kalau kemerdekaan saat ini hanya bisa di nikmati oleh segelintir orang saja,,faktanya di jaman kemerdekaan dan modern ini ,,masih banyak saudara kita yang terjajah oleh penderitaan kemiskinan pendidikan,,padahal jelas-jelas nasib mereka ada di dalam negara ini.

    Poskan Komentar

    Akhirnya tiba di Ruang Rehat
    Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda