Senin, 30 Agustus 2010

Deja Vu: mencari Ruang Jeda, membuka kembali catatan usang


Jeda adalah kesempatan untuk mengambil nafas panjang dari sekian perjalanan yang telah kita tempuh. Jeda adalah sebuah perenungan untuk mengambil lebih banyak hikmah dari setiap interaksi.

Dalam satu kesempatan, kubaca kembali catatan-catatan yang sudah nampak usang dari lembar-lembar lusuh yang saling berjubel dan bertumpukan. Kemudian tiba-tiba mataku terpejam menyusuri kehilangan.
Menerawang, memandang jauh sebelum semuanya membawa kita pada rasa yang kita ikat oleh hati saat ini. Sebelum langkah-langkah kaki yang kita pijakkan mengantarkan kita pada ruang dan dimensi yang lain.
Ada yang kita temukan, ada pula yang kita tinggalkan.

Terasa waktu berjalan begitu cepat berlalu.
Setiap jengkal langkah yang kita ayun, telah membawa jejak kita menuju tempat berbeda yang mungkin tak pernah kita bayangkan. Setiap nafas yang kita hembuskan, telah mengantar kita singgah pada ruang lain yang mungkin tak pernah kita rencanakan. Setiap peran yang kita lakonkan, membawa kita pada panggung baru, mengikuti skenario kehidupan yang tak pernah kita tahu jalan ceritanya. Kemudian semua tersimpan menjadi ukiran kenangan. Yang usang barangkali akan terbuang, terisi oleh sesuatu yang lebih baru.
Langkah kaki kita terus mengayun menyusuri waktu demi waktu. Dan benar, ada yang kita temukan, ada pula yang kita tinggalkan.

Aku tak pernah percaya reinkarnasi, bahwa yang mati akan hidup kembali dalam satu keghidupan yang sama. Tapi ketika berulang-ulang catatan usang itu kubaca, masa lalu seperti hadir kembali. Ada yang melintas tiba-tiba , seperti deja vu [sebab itu, dulu ruang ini kusebut Deja Vu]. Seperti mengunjungi ruang yang sama dalam satu kehidupan. Menyapa kembali jejak usang dari masa lalu, dan kita datang lagi ke tempat yang sama di kehidupan kita yang sekarang. Seperti ada perjumpaan yang terpahat dalam sejarah waktu. Saat ini, dengan entah kapan.

Seakan ada pertemuan masa di mana aku menikmatinya kembali. Kadang berbisik mesra, terkadang pula berteriak mencaci. Menyimpan banyak rasa dalam setangkup asa. Ruang yang lain seperti terbuka. Perlahan meresap di tiap labirin otak kemudian merangsek memenuhi kepala. Aku yakin, ya, suatu kali akan ada pertemuan masa di mana aku menikmatinya kembali. Hingga tak perlu ada sesuatu yang teramat sayang terlewat, hilang begitu saja.

Saat-saat seperti itu, aku seperti memulai belajar mengeja seperti anak TK yang baru masuk sekolah. Mencoba membaca pesan yang tersimpan di dalamnya. Mengais kembali mutiara yang tersembunyi, dari setiap pelajaran yang pernah ada.

16 Jejak Yang Tertinggal:

inge / cyber dreamer mengatakan...

like this post ^^

hazeleyed lady mengatakan...

Semuga ketemu apa yang di cari....

Dhana/戴安娜 mengatakan...

salam sahabt
ehm jadi memberikan arti tersendiri ya mas..good luck

duniaira.blogspot mengatakan...

kangen sama aku paling?
hehehehehehe...tidak ada yang berubah kok dari aku Nes.....glodag.........
Pastilah aku yakin pertemuan itu pasti akuan kembali terjadi, Dengan jeda lebih lama. Dengan wakt yang lebih lama. Sama-sama saling menikmati kinesik wajah walaupun kita tak pernah bicara tentang perasaan ini.
Seperti biasalah, Standart,,,,,Pisssssss!!!!! hihiihih...dilarang marah d bulan puasa

yansDalamJeda mengatakan...

Catatan usang, menjadi jejak usang. Tak berarti tak ada pelajaran yang bisa dipetik.

Terimakasih atas peringgahannya.........

Gombal Mukiyo mengatakan...

kebetulan ID ym saya juga pake dejavu, hehehe. salam kenal mas bro...

Isti mengatakan...

aku juga ga percaya reinkarnasi mas..

-Gek- mengatakan...

kadang yang usang membuat kita ingin kembali ke masa itu.
Kadang melepaskan sesuatu yang sudah berlalu masih terasa sulit.
Tapi, hidup terus berjalan.
Time heals every wound.. hopefully..

Nyun-nyuN mengatakan...

De ja Vu, jeda bernafas dengan beribu rasa, mengenang yang telah sirna..
hanya menjadi sebuah semangat, jangan di ulang ketika rasa [sakit] telah hinggap dan menyengat, kek lebah ya hihihi

Antoninilez mengatakan...

saya percaya banyak hal terus berulang: simak saja kasus korupsi... tapi soal kata2, novel, diary dll, selalu harus diinterpretasikan di setiap saman...

yansDalamJeda mengatakan...

Dulu sebelum menjadi Ruang Jeda dengan background putih, awalnya bernama Deja Vu. Saya masih ingat, ruangannya hitam pekat seolah menyimpan misteri di dalamnya.
Beberapa kali saya membaca catatan2 lama itu, ada banyak yang terlupakan ternyata. Hmmm....saya lebih suka dgn catatan yang sudah nampak usang itu. Saat membaca kembali itulah, seperti ada yang hadir kembali

Terimakasih untuk semua yang telah singgah di sini. Salam........

sawali tuhusetya mengatakan...

saya suka banget dengan tagline blog ini, mas. memang ada baiknya kita menyediakan ruang jeda sbg tempat singgah utk melakukan refleksi diri agar langkah ke depan menjadi lebih dinamis dan inovatif.

Rini Intama mengatakan...

Rindu mengayunkan langkah menujumu ruang jedamu aku bersikukuh duduk dan menyimak..

Pit mengatakan...

wah, artikel2 di ruang jeda mantap deh pokoknya. saluuu....tt!!!

lovepassword mengatakan...

Semua kayaknya emang butuh rehat. butuh jeda

endyonisius mengatakan...

http://endyonisius.blogspot.com/2010/09/i-will-see-you-yesterday-deja-vu-2006.html

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda