Jumat, 02 Juli 2010

Mencari Indonesia (Menyoal Budaya dan Moralitas Bangsa yang Hilang)


Barangkali ingatan kita telah lupa, beberapa waktu lalu kita banyak disuguhi berita yang membuat kita heran dan menggelengkan kepala. Bukan karena kagum atau takjub, tapi miris. Kita melihat bagaimana seorang ibu tua, yakni nek Minah (55), petani dari Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Nopember yang lalu (19/11) dihukum percobaan 1 bulan 15 hari karena mencuri tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4 di desanya.

Lain si nenek, lain pula si Basar dan Kholil, warga Lingkungan Wonosari Kediri pada akhir Nopember (24/11/2009) yang lalu, mendapatkan ancaman hukuman 5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Kota Kediri, karena melakukan pencurian sebuah semangka di kebun milik Darwati, yang juga tetangganya. Mereka dianggap melanggar Pasal 362 KHUP tentang tindak pidana pencurian biasa.

Gambaran situasi edan tidak sampai disitu, masih banyak lagi yang lainnya. Lihat saja Mbah Klijo Sumarto (73) warga Sleman, Provinsi DI Yogyakarta. Pria renta itu terpaksa menginap di Lapas Sleman sebagai tahanan gara-gara tertangkap mencuri setandan pisang. Sungguh ironis!

Kisah lain, adalah Enam orang anak ditahan di penjara sejak 25 Juni 2009 yang lalu hanya gara-gara mencuri enam biji jagung di areal tanaman jagung milik Slamet Riyadi di Bulusari, Maospati.. Keenam anak yang semuanya laki-laki itu adalah RA (15), AAS (14), FAR (17), DTS (17), AHK (17), dan IPMY (17). Mereka semua merupakan warga Maospati, Magetan. Mereka didakwa pasal 363 ayat 1 butir 4 KUHP yang menyebutkan pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dan diancam pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Ya, barangkali kita benar-benar menggelengkan kepala karena keheranan melihat hukum negeri kita yang sudah terlanjur edan. Hukum seperti benar-benar ditegakkan untuk mereka yang lemah, sementara banyak kasus yang luar biasa besar seolah berhenti begitu saja. Di ruang lain, "mereka" yang menguras uang rakyat masih bisa duduk santai di teras rumahnya, masih bisa menikmati liburan dengan segala fasilitas mewahnya. Mereka yang terbukti melakukan korupsi, penanganannya masih saja belum selesai. Kalaupun "pengadilan" memutuskan bersalah dan harus dipenjara, ach....penjara hanya sekedar melepas lelah bak di hotel bintang lima.

Belum usai skenario kasus cicak dan buaya, belum habis penanganan skandal Bank Century, masyarakat kembali menggelengkan kepala dihebohkan video mesum "mirip" artis. Berbagai media massa, baik media cetak (koran, majalah dll) maupun elektronik (TV, Radio, Internet dll) memberitakan tentang "kebenaran" pelaku adegan mesum itu. Pujian, hujatan sekaligus gunjingan, ramai menyelingi perbincangan menyoal sangkut pautnya dengan budaya dan moral bangsa. Ya, hampir tiap hari, bahkan tiap menit pemberitaan itu seolah tak pernah berhenti. Semua orang membahasnya, di gedung DPR hingga warung-warung kopi pinggir jalan, di kantor pejabat hingga gedung sekolahan. Kita pun merasa orang paling bermoral menyoal itu semua.

Bolehlah kita membela diri, barangkali saat ini Indonesia sedang menghadapi persoalan yang amat rumit. Berupa adanya gejala semakin merosotnya praktik nilai-nilai moralitas dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dan kita sedang mencari Indonesia.

Ya, Indonesia. Sebuah negeri yang terbentang 17.508 pulau bersama 240 juta rakyat di dalamnya, beragam suku bangsa dengan segenap adat dan budayanya. Negeri yang konon memegang teguh adat ketimurannya. Negeri yang beradab dan bermartabat. Negeri yang ramah, sopan dan hidup berdampingan dengan segenap perbedaannya. Negeri yang berBhineka Tunggal Ika.

Ironis. Keadaan yang sangat ironis ketika kita melihat berbagai belahan lain yang masih kita sebut Indonesia, mereka yang menganggap diri beradab dan bermartabat justru berperilaku primitif. Di mana-mana seolah sedang menikmatinya bersama. Nggak di gedung DPR, nggak di kampus, nggak di lapangan, nggak di jalanan perilaku yang nggak berbudaya selalu saja terjadi. DPR dengan sidang-sidangnya yang selalu ricuh, tawuran antar mahasiswa, bentrok antar pelajar, tawuran antar kampung hingga antar suporter bola membuat kita malu untuk menyebut diri sebagai Indonesia. Sepertinya benar, batasan-batasan moral itu kini mulai menipis, luntur, dan kabur dilibas arus modernisasi. Entah apakah kita sedang bersama-sama melupakan Indonesia? Entah tanggung jawab siapa. Entah ke mana Indonesia? Hilang?!

Dan orang-orang pinggiran seperti saya hanya bisa bersenandung,

Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau

Tegakkan hukum setegak tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu*

.......... Lirik lagu Manusia Setengah Dewa by Iwan Fals



Ini adalah postingan kolaborasi (yang semestinya terbit tanggal 1 Juli kemarin) di gagas oleh TRIMATRA sebagai penanda untuk tetap melakukan kontrol sosial, kontrol moral dan budaya. Dan saya terlambat untuk menyajikan postingan bersama itu. Bukan apa-apa, hanya soal waktu. hehe. Maaf karenanya.

15 Jejak Yang Tertinggal:

Munir Ardi mengatakan...

ya begitulah susah untuk bernapas sekarang mas , karena manusia mengambil tindakan dengan merasa paling benar, mahasiswa tawuran udah jadi berita harian gimana nggak hancur negeri ini kalau generasinya generasi buas semua suka makan teman sendiri

Latifah hizboel mengatakan...

Membahas Moralitas tak ada kata terlambat bila perlu tiap waktu dan tiap saat, agar kita selalu diingatkan terutama bagi anak2 bangsa ini. Hanya dengan bekal agama dan keimanan lah moralitas akan tertanam bagi anak-anak, kita dan semua.

Selamat sudah melaksanakan partisipasinya, sukses selalu yaa...

Sientrue mengatakan...

Ya mas.
Indonesia sedang sakit, sekarat, hanya bisa berbaring di atas ranjang tanpa bisa berbuat apa apa.
Andai aku seorang dokter yang bisa menyembuhkan indonesia. Aku pasti akan berusaha menyembuhkan indonesia dari penyakitnya.
Tapi aku hanyalah anak jalanan yang bodoh akan pengetahuan. Yang hanya bisa berdiri dan melihat.

makasih mas atas renungannya.

catatan kecilku mengatakan...

Banyak kejadian yg kian menampakkan tipisnya moralitas bangsa ini.. Semuanya membuat miris.
Semoga kita dapat kembali pada norma2 yg ada agar kehidupan kita bersama makin baik dari hari ke hari.

the others... mengatakan...

Ikutan posting kolaborasi juga ya..? Nice post mas.. semoga apa yg kita tulis dapat membuka pemahaman baru bagi orang lain.

maiank mengatakan...

ya Tuhan tersesat disini mankjubkan

aku kemarin baru keingetan masalah nek minah jg , gara2 ngelihat berita yg luar biasa menakjubkan, dan hukum memang GAMPANG ditegakkah untuk mereka yang lemah....

miris, sedih banget deh...

minomino mengatakan...

keadilan akan terwujud.pasti.hanya masalah waktu dan itikad.
mari kita menjadi bagian dari suatu perubahan ke arah yg lebih baik :)

Winny Widyawati mengatakan...

Miris, tapi ga boleh pesimis ya, malah kalau bisa kita sendiri menjadi agen kebaikan minimal untuk masyarakat di lingkungan kita sendiri. kalau banyak berfikiran begini, insha allah Indonesia bisa menjadi lebih baik...

itempoeti mengatakan...

negeri kardus...
dikelola oleh para zombie yang hanya bisa menindas rakyat...

Love4Live mengatakan...

memang harus ada REVOLUSI!!!

annie mengatakan...

beginilah sekarang bangsa ini, tapi dengan semangat memperbaiki akhlak dan moralitas anak bangsa, Insya Allah kita bisa bangkit dan berharga diri.
Terus menulis bagi perbaikan Indonesia!

Salam ...

bonk AVA mengatakan...

kita semestinnya harus sadar kalo ingin berubah untuk indonesia dan mulailah dari diri kita sendiri

yansDalamJeda mengatakan...

Sekarang kita tidak perlu menyalahkan dan menghina orang lain pada masalah moralitas ini. Alangkah sangat bijaksana jika kita menunjukkan prestasi dan hasil karya kepada negara sebagai bentuk perjuangan kita dalam membangun moralitas bangsa. Oleh karena itu ayo kita berjuang memperbaiki moral bangsa dari lingkungan kita terkecil dan dimulai pada saat ini.

yansDalamJeda mengatakan...

Moralitas menjadi sumber aturan perilaku yang tak tertulis yang oleh masyarakat dipegang teguh karena ia memiliki nilai-nilai kebaikan sesuai dengan ukuran-ukuran nilai yang berkembang dalam masyarakat.Dan, moralitas dalam diri seseorang dapat berkembang dari tingkat yang rendah ke tingkatan yang lebih tinggi seiiring dengan kedewasaannya.

Kohlberg (1976) menggambarkan tiga tingkatan moralitas yang dikaitkan dengan perspektif sosial yang meliputi: (1) preconventional, (2) conventional, dan (3) post conventional atau principled.

Pada tingkat preconventional, (tingkatan moralitas yang paling rendah) perspektif sosial moralitas seseorang menunjukkan bahwa dirinya merupakan individu yang kongkrit.

Oleh karena itu perilaku resiprokal sangat penting bagi orang yang berada dalam tingkat moralitas ini. Dalam tingkatan moralitas ini kita sering menjumpai perilaku seseorang dengan penalaran yang menunjukkan perspektif sosial. Pola berpikir moral seperti ini tentu bisa dilakukan secara kolektif yang kemudian mencerminkan suatu moralitas bangsa.

Pada tingkatan conventional perspektif sosial yang ditonjolkan pada tingkatan
moralitas ini ialah pentingnya seseorang menjadi anggota masyarakat yang baik. Oleh karena itu perilaku orang yang berada pada tingkatan ini akan memiliki alasan-alasan: (1) apakah masyarakat mengizinkan; (2) pentingnya bagi seseorang untuk memiliki loyalitas pada orang, kelompok, FDa otoritas pemegang kekuasaan; dan (3) pentingnya memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain dan masyarakat secara luas.

Akhirnya, pada tingkatan post conventional (tingkat penalaran moral yang paling tinggi, yang hanya bisa dicapai ketika seseorang telah mencapai paling tidak usia 24 tahun), lebih mementingkan nilai-nilai moral yang bersifat universal. Dalam tingkatan ini orang mulai mempertanyakan mengapa sesuatu dianggap benar atau salah atas dasar prinsip nilai moral yang universal yang kadang-kadang juga bisa bertentangan dengan kepentingan masyarakat secara umum.

*Ikhwan Kunto Alfarisi

TRIMATRA mengatakan...

Postingan yang "menyengat" bang,, oiya makasi kontribusinya. Skr giliran aku nih yg terlambat backlink. Tenang, pas ol nanti ku updet list-nya. Hehe,hanya soal waktu ajah.

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda