Kamis, 10 Desember 2009

Mati Gaya

Pada akhirnya internet menjadi bagian dari sisi lain hidup kita, entah sejak kapan. Revolusinya sejak akhir abad 20 telah memberikan banyak perubahan, hingga sekarang. Kehadiran situs jejaring sosial seperti facebook semakin menarik perhatian banyak orang untuk memanfaatkannya, dari yang tua hingga anak-anak berasyik masyuk mengaksesnya. Seiring perkembangan teknologi, aksesnyapun kian mudah hingga tak harus punya komputer sendiri di rumah, fitur-fiturnya kian sederhana dan tak perlu butuh kuliah untuk mempelajarinya. Soal biaya, jangan tanya. Cukup dua ribu - tiga ribu rupiah saja, satu jam kita bisa berinternet ria, atau tambah dua ribu rupiah untuk teh botolnya, kitapun bisa menjelajahi dunia antah brantah dengan bebasnya.

Berinternet semakin akrab dengan kita, entah fesbuk, twitter, blog, atau apalah. Inet seperti telah menjadi teman setia yang selalu menemani hari-hari kita, setiap saat setiap waktu, di setiap situasi dan kondisi entah saat sedih ataupun bahagia, dari bisnis hingga arisan. Coba bayangkan kalau Si Inet yang biasa menemani tiba-tiba ngambek, kita bisa mati gaya!.

Bagi kita yang berasyik ria dengan fesbuk, terbiasa menyapa dan ngobrol dengan teman lama yang entah berapa tahun ga saling bertemu, atau asyik ngerumpi dengan teman baru yang entah berapa ribu kilometer jaraknya. Tentu menyenangkan rasanya. Tapi, coba bayangkan kalau Si Inet yang biasa menemani ngobrol dan sapa tiba-tiba ngambek, kita bisa mati gaya!.

Nah, yang ini nich ruang kita, Blog. Tempat kita berekspresi, ruang untuk bernarsis ria, bisnispun bisa, ruang yang kita anggap sebagai rumah kita, tempat kita ngadem saat kita merasa gerah, tempat mencurah saat kita marah, sedih atau bahagia. Biasa juga kita menganggapnya tempat berbagi, ruang saling bercerita antar kita. Biasa juga kita saling menyapa meski kita tidak sedang arisan di dalamnya. Coba bayangkan kalau Si Inet yang mempertemukan kita tiba-tiba ngambek, gara-gara virus ganas yang mewabah dan merusakkan sistem komputer kita yang membuatnya tak mau menyala,  kitapun mati gaya!.

Nah, masih ada cara untuk bisa gaya. Warnet! Ach, bagi pengangguran berlama-lama di warnet tak baik untuk kesehatan. Karena biaya untuk makan terpakai untuk bayar akses internet. Ach, mati gaya juga akhirnya. Tak ada warnet, laptop teman pun jadi. Bolehlah sekali-kali kita pinjam kepadanya dan kitapun bisa melepas kerinduan hanya berbekal kesabaran. Kita tak boleh marah kalau yang punya terus mengawasi laptop kesayangannya. Atau jangan menolak mengembalikannya kalau yang punya membutuhkannya, sementara kita masih belum menuntaskan cerita seru kita. Dengan laptop pinjaman pun akhirnya membuat kita bisa mati gaya. Apalagi tak bisa mengirim komentar saat kita singgah di ruang tetangga, padahal kita ingin bercengkerama dengannya. Eh komentar kita tak bisa muncul, entah kenapa. Apa karena laptop pinjaman barangkali?! Akhirnya, mati gaya juga.

Bersama internet, entah fesbuk, twitter, blog, atau apalah sepertinya telah menjadi gaya hidup. Ketika orang tak bisa mengaksesnya, ngambek tak menemani seperti biasanya, kitapun akhirnya dibuat mati gaya!
Bagaimana dengan anda, apakah sedang mati gaya?

9 Jejak Yang Tertinggal:

-Gek- mengatakan...

Engga tuhhh...! ;)

sibaho way mengatakan...

malah sedang bergaya sambil luntang lantung ke blog tetangga :D

lina mengatakan...

untungnya sedang tidak mati gaya...koneksi lancar...
kalaupun koneksi lelet, bisa baca-baca buku atau majalah. nggak mau mati gaya ah.

Newsoul mengatakan...

Bagi saya, obat mujarab untuk mati gaya ya ngupi saja, hehe. Inet cuma pelengkap, kadang-kadang saya menghindari FB atau site apapun. Tapi kalau ada memang hidup semakin berwarna, katanya. Nice post.

ivan kavalera mengatakan...

Setuju dg bunda Elly, saya juga bisa mati gaya kalo gak ngopi. he he he makanya saya juga dirikan 'kedai kopi.' alamatnya di sini:

http"//penulisbiasa.blogspot.com/

sesekali mampir ya, bung penyair.

Ivan Kavalera mengatakan...

wah kayaknya URL di atas salah ketik ya, langsung aja ke sini:

eka wijayanti mengatakan...

Tidak ada internet, mati gaya. Keseringat internet, kebanyakan gaya. Susah juga.

Ivan Kavalera mengatakan...

siang mas

Munir Ardi mengatakan...

nggak pernaha mati gaya karena sekarang memang ngandalin warnet

Posting Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda