Kamis, 19 November 2009

PKL, Ada Gula Ada Semut

Hampir di setiap kota, di setiap sudut keramaian, di sekitar pusat perbelanjaan selalu saja ada yang namanya PKL, pedagang kaki lima. Di mana ada gula disitu ada semut. Rasa-rasanya pepatah itu tak dapat dipungkiri. Semut akan ramai berdatangan ke arah gula yang manis. Mereka berbondong-bondong mencari penghidupan. Sebuah gambaran di mana ada sesuatu yang enak dan menguntungkan, banyak pula orang yang ikut ambil bagian.

Kota yang mulai tumbuh besar, dimana gedung-gedung mewah, mall-mall megah ikut berdiri mengiringi setiap inchi perkembangannya, telah menarik orang untuk berebut meraih keuntungan. Mereka yang tak mendapatkan tempat di ruang-ruang mewah dan megah, ruang-ruang kosong disekitarnya masih membuka kesempatan sebagai lahan hidup. Kondisi lapangan pekerjaan yang semakin menyempit sementara kebutuhan hidup semakin pelik, bagi mereka pekerjaan non legal sebagai pedagang kaki lima di trotoar, tepi jalan-jalan protokol, sekitar pusat perbelanjaan, menjadi pilihan realistis mengais kehidupan.

Pepatah lama ada gula ada semut, agaknya menjadi sedikit berbalik. Mereka datang di tengah-tengah keramaian. Menawarkan gula pada semut dengan bermacam cara agar datang menghampiri untuk membeli. Kreatifitasnya yang "nakal" sampai-sampai menimbulkan artian baru. Malah ada guyonan, kaki lima itu lima kali lebih kreatif dalam menjual barang. Menyusun strategi untuk menarik pembeli, menyiasati kekalahan dari kepungan gedung perbelanjaan yang menawarkan kenyamanan.  Keberadaan mereka yang dianggap mengganggu keindahan kota, menambah keruwetan lalu lintas, justru semakin membludak saja. Penangananpun sudah sering dilakukan. Seringkali harus kucing-kucingan atau bahkan perlawanan dengan Pamong Praja dalam setiap operasi penertiban, penggusuran atau penggarukan, seolah mengajak petugas untuk beradu stamina. Masih saja belum menemukan solusi.

Sebuah seminar tentang rencana kebijakan penataan pedagang kaki lima (PKL) digelar kemarin (18/10/2009) di Sidoarjo, kota yang mulai tumbuh besar meski tak sebesar Surabaya atau Jakarta. Di mana ada gula di situ ada semut seperti sebuah konsekuensi yang tak dapat dihindari. Agaknya perlu melihat dengan kacamata yang jeli dan berbeda bagi pemerintah untuk menemukan solusi yang lebih pas mengatasi persoalan PKL. Tidak hanya dengan penggusuran atau penertiban yang sewenang-wenang yang sudah biasa dilakukan, di tengah kondisi hidup yang sulit dan kesempatan kerja yang kian menyempit. Sekedar mempertahankan hidup dengan menjajakan rokok, makanan, minuman, permen hingga sandal jepit.

13 Jejak Yang Tertinggal:

ateh75 mengatakan...

Miris melihat disaat mereka dikejar kamtib ,tekadang hati nurani ntah kemana tuk para bapak petugas ( ya..alasan tugas ).Kesabaran para PKL mewakili uletnya mereka mencari nafkah demi sesuap nasi.

* Eh..pertama ya ,horeee..hehe

Newsoul mengatakan...

Ya, PKL hanya salah satu ekses bertumbuhnya suatu kota besar. Ada gula, ada semut, akhirnya kita berpikir juga menjadikan sarana-prasarana di desa lebih lengkap dan lebih baik, inipun menimbulkan wacana seolah-olah akan meng"kota"kan desa. Selalu ada tantangan dalam pertumbuhan sebuah kota. selalu ada korbanan pembangunan. Mungkin saatnya setiap kota memiliki moto sebagai kota yang bersahabat,kota yang humanis, selain kota berwawasan lingkungan yang selama ini banyak didengungkan. Nice post.

sibaho way mengatakan...

bukannya benar2 dibina dengan benar, rakyat yang kreatif (dan pekerja keras) begitu mestinya diarahkan. tapi jangan sambil diperas...

BrenciA KerenS mengatakan...

bener-bener... dilema PKL emang ga kunjung abis. Mereka juga cari makan, tapi sebaiknya penanganannya yg adil ya..

Joddie mengatakan...

yup.. setuju bang.. bukan penertiban yang sewenang-wenang.. tetapi lebih manusiawi. Jadi inget dengan Soloku.. penertiban di Solo tidak pernah ada kata 'gusur'.. bahkan sebuah pasar liar mau pindah secara sukarela saat pemerintah merelokasi mereka.. hmmm..

Hibah Sejuta Buku mengatakan...

hatus dibina.... jangan diBINASAKAN..!
kebanyakan yg terjadi itu bro...

Rosi Atmaja mengatakan...

hem kalo gubernur dki fauzi bowo mungkin blg gini, "├Źni kota saya, saya berkewajiban mengaturnya. jadi anda para PKL musti ngikut aturan kota saya. kalo ngga ya jgn salahkan klo saya gusur ..." hehehe nyindir mode on*

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

PKL dilematis...
kadang dianggap salah, tapi banyak juga yang bertaut hidup pada mereka.....

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Mungkin itulah sebabnya diberi gelaran Pedagang Kaki Lima, artinya larinya bisa kuat kalau ada trantib.......karena kakinya ada lima...

Yunna mengatakan...

PKL emang selalu bikin gemas. Udah diusir kok balik lagi,,bikin pemda capek...

Zahra Lathifa mengatakan...

he'eh...memang harus ada solusi yang proporsional, yg tidak merugikan salah satu pihak, walau bagaimanapun aku ga suka kesewenang2an pemerintah...kasih tempat/sarana dunk! mereka kan juga butuh makan, kasian kan?

Rumah Ide dan Cerita mengatakan...

Itulah nasib saya. Cuam kalo saya kebetulan dagangnya keliling.

Irwan Bajang mengatakan...

Kemiskinan seringkali dirasakan sebagai Aib, makanya pedagang kaki lima sering diusir, pengamen digaruk, gelandangan dihilangkan....
bukannya itu tanggung jawab negara? sebagai konsekuensi bahwa kita sepakat menjadi negara dan warga negara..
negeri ini lucu...
penyakit maunya main amputasi aja, gak mau diobati..
ckckckck

Posting Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda