Rabu, 28 Oktober 2009

Simpang Jalan

Alun-alun Kota tak seperti biasanya, sepi dan basah. Gerimispun masih menetes di ubun-ubun kepalaku. Aku bergegas berteduh dalam warung tenda milik Mbok Rondho yang masih belum tutup waktu itu meski gerimis semalaman. Lampu-lampu dari mesin diesel yang disewakan untuk mengalirkan listrik ke warung Mbok Rondho dan juga warung-warung lainnya sudah dipadamkan. Maklum, batas waktunya sapai jam 2 pagi, dan mereka harus membayar dua ribu rupiah ke pemilik diesel tiap harinya. Hanya cahaya remang lampu dari pinggir jalan yang menyinari tempat dudukku, sedikit terhalang daun sono yang menggelayut basah.

Meski hujan sudah reda, udara terasa sangat dingin waktu itu. Dingin, dingin sekali. Apalagi ditambah dinginnya jaket jeans yang masih basah kuyup oleh air hujan, menambah dinginnya udara sampai menembus sumsum tulangku rasanya. Tapi tak mampu mendinginkan keresahan pikiranku.

“Nih kopi susunya, kenthel dan manis to?!”. Mbok Rondho menyuguhkan kopi yang belum kupesan dan meletakkannya di meja tempatku. Maklum, minuman itulah yang biasa kupesan tiap aku datang ke warung milik perempuan setengah baya yang cerewet itu.

“Dari mana cah ganteng?” tanyanya dengan logat Jawa Tengah yang masih sangat kental. “Dari jalan-jalan Mbok, menenangkan pikiran, sekalian cari jodoh siapa tahu ada cewek nyasar” jawabku sambil mengambil rokok yang agak basah dari saku jaketku.

”Jodoh tidak usah dicari, duit tuh dicari! Kalo banyak duit, perempuan datang sendiri”. Mulutnya masih terus nerocos sambil berjalan menjauh dari tempat dudukku.

Segera kuminum kopi hangat yang tadi disodorkan Mbok Rondho sambil menghisap rokok yang tinggal dua batang. Teringat kembali wajah-wajah penuh harapan yang sudah lama kutinggalkan. Wajah Emak yang tak secantik waktu mudanya dulu, wajah bapak yang tak lagi gagah termakan oleh umur, wajah kakakku yang masih menganggur setelah ter-PHK, wajah adikku yang masih duduk di kelas 2 SD, wajah kawan-kawanku, juga wajah perempuan impianku yang semakin samar sesamar perasanku kini padanya. Karena lebih memilih pemuda pilihan orang tuanya, pegawai kelurahan, anak Pak Lurah kabarnya, daripada berhubungan denganku yang hanya….mahasiswa. Ya, mahasiswa. Status yang dulu dianggap terhormat sebagai orang terpelajar, intlelektual, kritis, dan punya semangat untuk mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran dan melawan segala hal yang menyimpang dari moralitas, demokrasi dan humanisme, rajin berdiskusi dan menyuarakan lewat aksi dijalan-jalan sebagai refleksi permasalahan yang melanda negerinya, mulai krisis ekonomi, harga yang selalu naik, sampai korupsi yang mengakar. Entah tiba-tiba terlintas berbagai persoalan seolah terrangkum dalam pikiranku.

“Jreng…jreng…” suara gitar cempreng pengamen sedikit mengagetkanku. “Maunya selalu memberantas kemiskinan, tapi ada yang selalu kuras uang rakyat. Ada yang sok aksi buka mulut, protas protes. Tapi sayang mulutnya beraroma alkohol. Yang muda mabok, yang tua korup……. ”. Lirik Dhani Dewa keluar dari mulut pengamen yang suaranya sama sekali tidak merdu itu membuyarkan anganku menjadi mahasiswa sekelas Soe Hok Gie dalam film Catatan Seorang Demonstran atau Ahmad Wahib yang sosoknya telah banyak dilupakan oleh mahasiswa angkatan jaman sekarang. Segera kurogoh uang receh yang mungkin terselip disaku celana.

“Sialan” batinku, karena tak serecehpun kutemukan dalam saku celanaku. Terpaksa kuberikan rokok yang tinggal sebatang-batangnya sebelum akhirnya ia beranjak pergi.

Meski suaranya tidak merdu, lagu tadi menarik akal sempitku untuk berpikir tentang sesuatu. Tentang lirik terakhir dari lagu yang sama sekali tak ngetrend dikalangan remaja di kota pinggiran seperi ini.

”Mungkin benar apa yang di nyanyikan pengamen tadi” pikirku. Di negeri ini, yang tua tak memberi contoh bagi yang muda, dan yang muda lebih asik mabok dengan sikap yang tak peduli dengan apa yang mereka lakukan. Aksi protes dilakukan oleh mereka yang mulutnya beraroma alkohol, sayang. “Jayalah negeri ini….Jayalah negeri ini”. Harapku di tengah kebingungan pikiranku yang idealis, sok moralis mungkin.

“Sudah mau tutup ya Mbok?” tanyaku sembari melihatnya membereskan dagangan.

“Iya, sudah subuh, sudah waktunya pulang”.

“Saya juga sudah ngantuk, kapan-kapan saja bayarnya ya Mbok, sekalian sama yang kemarin”. Kulihat raut wajahnya semakin sewot saat aku mengatakan kalimat itu, tidak kelihatan mimik wajah Jawa Tengah yang terkenal kalem dan luwes.

***

Aku berjalan menyusuri jalanan basah alun-alun kota menuju kontrakan yang kurang lebih setengah kilo jaraknya. Sungguh perjalanan yang cukup melelahkan. Selelah pikiranku oleh tugas-tugas kuliah yang berantakan. Ya.. demi mengejar status sebagai sarjana. Yang kadangkala lebih berarti daripada mengubah sejarah.

Tiba-tiba terlintas wajah Paijo anak Cak Kaban tetanggaku. Sarjana Ekonomi lulusan sebuah universitas di Jakarta. Ia sering cerita tentang kehidupannya selama ia merantau di ibu kota, menjadi mahasiswa.

Tak sepenggal ceritapun ia lewatkan, semua diceritakan kepadaku dengan haru-biru. Ada mahasiswa yang kepalanya berdarah karena memperjuangkan nasib rakyatnya, juga tentang pekikan “Hidup Mahasiswa!” yang kini sudah jarang didengarnya, tentang luka oleh moncong senapan para tentara demi mengubah nasib bangsanya. “Mengubah sejarah” katanya. Juga saat ia dan ribuan mahasiswa lainnya dihadang tidak hanya sepasukan, tapi juga oleh panser-panser militer.

“Entah siapa yang memulai, batu sudah beterbangan ke arah tentara. Tiba-tiba air menyembur!. Mahasiswa merunduk, melindungi muka dan kepala sebisa mungkin. Dengan kaus, syal, topi, tangan, bendera. Mereka merapatkan barisan” Kenangnya dengan pandangan yang menerawang jauh mengingat kejadian itu.

Suasana memanas saat itu, damonstrasi ribuan mahasiswa yang bersikeras menuju gedung DPR terhadang lapisan barisan ratusan aparat polisi bersenjatakan pentungan dan tameng. Mahasiswa merangsek ke depan, berhadapan langsung dengan tameng-tameng tentara. “Kala itu adalah hari-hari panjang demonstrasi” kenang Paijo melanjutkan ceritanya. Cerita yang membuatku seperti berada di antara mereka. Diantara ribuan pemuda yang menjadi tumpuan harapan bangsa. Diantara sesaknya harapan yang dijerat oleh tali kekuasaan.

“Aah…” ia menghela napas panjangnya sekaligus memaksa membuka ingatannya tentang kejadian enam tahun lalu. Saat darah pengorbanan yang harus dibayar mahasiswa, Mei 1998 waktu itu. Dan ia di sana, menguji hidupnya, karena hidup tak teruji, tak layak dijalani, tegasnya.

Terakhir kalinya aku bertemu Paijo saat itu, enam bulan yang lalu sebelum aku meninggalkan semuanya, Emak juga Bapakku, rumah dan kampung halamanku. ”Melanjutkan langkah sejarah” pikirku.

***

Alun-alun kota sudah jauh kutinggalkan. Tak tampak lagi warung Mbok Rhondo juga monumen tinggi menjulang yang berdiri ditengah alun-alun benar-benar tak tampak lagi dari pandanganku. Aku bergegas melangkahkan kakiku menyusuri jalanan sepi menuju kontrakan yang tinggal beberapa meter jaraknya. Sebuah rumah di sudut jalan yang kutempati bersama beberapa sahabatku. Senasib seperjuangan, makan nggak makan asal kumpul, begitu sahabatku yang lain bilang melihat keakraban kami. Keakraban yang membuatku lupa arti kemapanan.

Kurebahkan tubuhku sesampainya disana, di dalam sebuah kamar sempit tempat biasa kami berdiskusi bersama tentang berbagai persoalan dinegeri ini, yang tak pernah dibahas di ruangan-ruangan tempat kami kuliah, mendengar ceramah para dosen yang tak sebaik mahasiswanya.

“Hus”. Segera kutepis pikiran-pikiran aneh itu dalam otakku. Sesaat teringat olehku nada suara Paijo kembali yang lantang seperti orasi saat ia demonstrasi. Ucapan yang membuatku sadar bahwa mahasiswa tak hanya kuliah, lulus dan bekerja, tapi menguji hidup ditengah ketidak adilan.

Hari ini aku seperti berdiri di persimpangan, jalan yang kupilih mungkin tak menjanjikan kekayaan yang dibanggakan banyak orang. Menunda kebahagiaan emakku yang ingin segera melihatku menjadi sarjana, lulus kuliah dan bekerja bagaimanapun caranya.

Mataku tak juga terpejam, gelisah oleh pikiran-pikiran yang tak tertuliskan. Tentang mahasiswa yang mulutnya bungkam dalam kemunafikan dan ketidak adilan bahkan penindasan. Tertawa bangga oleh keegoisan mereka, sementara tangan mereka diikat, kaki mereka terpasung dan leher mereka dirantai.

“Hus”. Segera kutepis kembali pikiran-pikiran aneh itu dalam otakku dan kucoba pejamkan mataku menyambut mimpi bersama terbitnya matahari, dan membebaskan pikiranku dari ideologi yang paling sempurna.

*Sidoarjo. Untuk mereka dan sahabat yang berada di Simpang Jalan dalam ruang yang berbeda, sebagai refleksi kecil Gerakan Sumpah Pemuda. Semoga kita bertemu di ujung jalan yang sama!

14 Jejak Yang Tertinggal:

ivan kavalera mengatakan...

lalu akhirnya aku tiba juga di ruanmg rehatmu, cah ganteng (he he kayak mbok Rondho aja. Hmmm, ruang catatan yang semoga bisa menginspirasi para pemuda. Masih ada kopi gak ya?

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

Amienn..
Bersyukurlah ketika kita sampai pada persimpangan hidup. Walau sekalut atau sebingung apapun dlm memilih jalannya, tapi hikmah yg ada bahwa kita sampai pada proses transformasi utk menjadi pribadi yg lebih baik.. Guna menyongsong berbagai persimpangan lagi yg nantinya bakal kita temui..

Newsoul mengatakan...

Pergulatan pikiran di Simpang jalan titian, banyak yang ditilik. Selamat hari Sumpah Pemuda kawan. Semangat !

TRIMATRA mengatakan...

bangunlah para pemuda pemudi ...
bangun jiwamu bangun negerimu...
karena di punggungmu harapan tertumpu...

met hari sowmpah pemoeda, 28 okt 09

ateh75 mengatakan...

Hari ini untukmu para pemuda bangkitlah untuk lebih memajukan dan lebih mengangkat derajat bangsa ini,hanya kalian wahai pemuda harapan bangsa...

*Selamat hari soempah pemoeda

Tisti Rabbani mengatakan...

*welcome to the real world, young man*
selamat datang di dunia primitif berbalut modernisasi dimana2 bernama Indonesia....*sighh*..

pesanku cuma satu....
belajarlah baik2, kuliahlah hingga selesai...
buat bangga orangtua dan agama...
tak usah mikir njelimet ttg bangsa dan negara ini.

*yg komen lg miris melihat rekan2 98 yg sdh menjd dewan terhormat tak jua memberikan kontribsi berarti bagi bangsa dan negara, yg ada hanya status2 di FB yg penuh kenarsisan ttg mobil dan rumah baru, juga gambar2 ttg pelantikan mereka kemaren*...hhhhhh.....

Henny Y.Caprestya mengatakan...

perjalanan sungguh masih panjang. tetaplah dengan niat untuk sukses :)

yans'dalamjeda' mengatakan...

Hanya sedikit refleksi, karena kita pernah berjanji Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia!

Rumah Ide dan Cerita mengatakan...

Pemuda memang selalu jadi pelopor perubahan.
Tapi pemuda sekarang harus hati-hati dengan dua extreme yang sekarang ada.
Extreme Kanan adalah narkoba.
Extreme kiri adalah korupsi. Jangan sampai terjerumus.
AYO KITA BINASAKAN. Seperti pasukan sekutu yang memburu Hitler hingga ke lubang persembunyiannya. Yang membuat sang fuhrer itu bunuh diri di samping kekasihnya Eva Bunn.

andry sianipar mengatakan...

salam super,,,
jangan penah padam semangat perjuangan ini,,,
mari sejajarkan bangsa ini denagn bangsa-bangsa lain di duania, selamat hari sumpah pemuda !!!

AISHALIFE-LINE mengatakan...

banyak pikiran yang berkecamuk dalam otak.Fokuskan aja pada kuliah dulu bro.Sukses ya.

Irwan Bajang mengatakan...

yang muda maobok yang tua korup...mabok terus korup terus...
saya suka lagu itu.

Banyak hala yang harus diubah oleh pemuda dalma hidupnya sebagai pemuda. Tentu saja ia memangku banyak beban yang harus segera ia tuntaskan untuk kemakmuran bersama.
:D
Tulisannya inspiratif dan bikin merasa bersalah Bung!

Munir Ardi mengatakan...

Hidup pemuda padamulah dititipkan cita-cita luhur para pendiri negeri

Mayyadah mengatakan...

nice story
karakter tokoh aku terasa idealis en kritis banget^^

Poskan Komentar

Akhirnya tiba di Ruang Rehat
Ruang bersama untuk saling memberi nafas, dan setiap kata adalah nafas Ruang Jeda